Kelulut atau meliponini masih termasuk keluarga lebah, namun lebih kecil dan tidak menyengat, bersarang di batang kayu yang sudah ditebang. Menurut informasi, madu kelulut sangat bagus diminum untuk menjaga kesehatan. Madu kelulut berkhasiyat menyembuhkan sejumlah penyakit, salah satunya stroke.

Kegiatan budidaya kelulut di Desa Asam Randah ini pertama kali dirintis oleh Ketua Kelompok Tani Hutan yang diketuai Heriyanto. Budidaya kelulut dimulai dengan mengambil batang kayu yang sudah ada lebah kelulutnya dari hutan. Bisa pula dibeli dengan harga antara lima ratus hingga satu juta-an rupiah, tergantung kualitas dan negosiasi pada waktu membeli. Komunitas lebah yang sudah berkembang biak, bisa dipisahkan dengan cara memindahkannya pada batang kayu lain yang bisa menjadi habitat baru bagi lebah.

Nama inovasi :   Pemberdayaan ekonomi melalui usaha madu kelulut
Pengelola : BUMDes Asam Randah
Lokasi/alamat : Desa Asam Randah Kecamatan Hatungun Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan ( Kalsel )
Contact person : Hartanto (Ketua BUMDes)
Telepon/HP/email : 0813-4837-4122

Sebuah kotak diletakkan di atas batang kayu tersebut, perlahan-lahan akan terbentuk lubang besar yang menghubungkan keduanya dan lubang kecil untuk mengalirkan madu keluar. Kotak kayu itu harus diupayakan tetap kering supaya kelulut cepat mengelem dengan resin. Kemudian bagian atasnya ditutup dengan plastic. Ada kemungkinan kelulut tidak mau bersarang karena tidak ada jalan menuju kotak atau jalannya tersumbat sehingga kelulut tidak bisa bersarang. Oleh karena itu, harus diupayakan membuat jalan supaya kelulut bisa masuk dan bersarang pada kotak yang ada di atas batang kayu tersebut. Dalam pemeliharaan kelulut, juga perlu dilakukan pengawasan terhadap organisme pengganggu berupa semut, katak dan lalat.

Desa Asam Randah telah mendorong pengembangan usaha madu kelulut melalui pembentukan BUMDes. Bersama Kelompok Tani Hutan, BUMDes mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan skema pinjaman yarnen – bayar setelah panen. BUMDes memberikan bantuan pinjaman dalam bentuk satu paket lengkap budidaya kelulut, mulai dari batang kayu yang ada kelulut, kotak kayu untuk sarangnya dan beberapa perlengkapan lain senilai Rp 500 ribu. Penerima bantuan berjumlah sekitar 50 orang petani.

Panen berlangsung 2 hingga 3 bulan sekali. Setiap kotak bisa menghasilkan 2 hingga 3 botol madu yang volumenya 600 mililiter setiap musim panen. BUMDes membeli madu dengan harga Rp 75 ribu per botol, sebagian digunakan untuk membayar cicilan pinjaman. Selain mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, upaya ini mampu meningkatkan kontinuitas pasokan. Permintaan menunjukkan trend meningkat seiring kesadaran pentingnya minum madu demi menjaga kesehatan. Desa telah mengalokasikan penyertaan modal pada BUMDes dalam mendukung pemberdayaan ekonomi ini masing-masing sebesar Rp 20 juta dalam APBDes 2018 dan Rp 45 juta dalam APBDes 2019.*****