Desa Sukaratu mewarisi tradisi dan budaya Banten yang bercorak agraris. Untuk mempromosikan dan melestarikan budaya Banten, Desa Sukaratu membangun ruang terbuka hijau berupa taman desa. Taman desa bernama Taman Mahkota Ratu menampilkan konsep ethnic dan agroculture. Berkat inovasi itu, Desa Sukaratu dikenal sebagai desa wisata terkemuka di Provinsi Banten. Pada 2018, pengelolaan Taman Mahkota Ratu menyumbang Rp 16.263.000,- untuk pendapatan asli desa (PADes).

Desa Sukaratu terletak di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pembangunan Taman Mahkota Ratu bertujuan untuk mengurangi stigma negatif pada lahan pertanian. Meski sebagian besar warga Desa Sukaratu menggantungkan hidup dari sektor pertanian, namun tak sedikit generasi muda yang melihat dunia pertanian sebagai sektor yang ketinggalan zaman.

Nama Inovasi Taman Mahkota Ratu
Pengelola Pemerintah Desa Sukaratu
Alamat Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Banten
Kontak
  • Irman Supriatman (Kades Sukaratu) – +62-819-1112-1132
  • Dodi (Direktur BUMDes Sukaratu) – +62-819-0600-0006

Sesuai dengan visi dan misi Kepala Desa Sukaratu, Irman Supriatman, yang mengusung revitalisasi pertanian dan adat/budaya Banten, pada Musyawarah Desa 2016 memutuskan untuk membangun ruang publik yang memiliki nilai edukasi dan estetika yang tinggi. Ruang publik diperlukan untuk sarana mengekspresi kreativitas warga, penyuluhan/pengembangan pertanian maupun musyawarah desa.

Implementasi gagasan di atas sempat mengalami kendala karena Desa Sukaratu tidak memiliki tahan desa yang representatif untuk pengembangan taman terbuka hijau. Lalu, pemerintah desa merayu warga yang memiliki sawah di hamparan Sukaratu untuk melakukan kerjasama pengembangan wisata bertema agraris. Pembagian keuntungan kerjasama itu terbagi dengan pola 40% untuk pengurus, 10% untuk PADes, 27% untuk BUMDes, 11% untuk Kas BUMDes, 5% untuk CSR dan 2-5% untuk pemilik lahan.

Pembangunan taman dimulai pada 2016 dengan pembiayaan dari APBDesa 2016 dan dana swadaya (gotong-royong). Pembangunan Taman Mahkota Ratu mengubah daerah pesawahan yang kotor dan dipenuhi semak-semak menjadi tempat yang menarik dan nyaman. Selanjutnya, BUMDes Sukamaju mendapat kewenangan untuk pengelolaan taman desa dengan penyertaan modal dari Dana Desa sejumlah Rp 50.000.000,-

Desa Sukaratu sendiri memiliki Saung Tani Pos Penyuluhan Desa (POSLUHDES) yang representatif untuk tempat pertemuan, musyawarah, pembinaan, serta pelatihan pertanian di area Taman Mahkota Ratu. Saung ini telahdilengkapi dengan perpustakaan yang memadai. Tak heran, Taman Desa menjadi tempat favorit bagi warga desa berkumpul (gathering) dan mengadakan pertemuan (meeting).

Secara rutin, Taman Mahkota Ratu menjadi ruang untuk; (1) musyawarah kelembagaan desa (PKK, Karang Taruna, RT dan RW); (2) musyawarah terkait pertanian, (3) musyawarah lainnya ang bersifat umum atau insidentil.

Pengunjung Taman Mahkota Ratu juga datang dari berbagai daerah, seperti Cilegon, Tangerang, Pandeglang, dan juga dari DKI Jakarta. Sebagian besar pengunjung adalah anak-anak muda yang menyukai swafoto (selfie).

Kreativitas Pemerintah Desa Sukaratu, Kecamatan Cikeusal dengan membangun Taman Mahkota Ratu menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia. Kolaborasi antarpihak dan integrasi pertanian-wisata dapat meningkatkan pembangunan desa dan pertanian yang tangguh. Pada 2017, Desa Sukaratu meraih Juara 1 dalam kategori Desa Ketahanan Pangan di Provinsi Banten.

%d blogger menyukai ini: