Katiagan, konon sebuah nama telaga, di mana masyarakat setempat mengambil air untuk kebutuhan hidupnya. Namun, ternyata air tersebut kurang baik untuk dikonsumsi (­batinagan) yang selanjutnya disebut dengan “Katiagan”.

Bila air sedang pasang, kami harus siap menghadang gelombang. Bila air sedang surut, kami siapkan kaki untuk berjalan, di antara rawa-rawa yang mengancam nyawa. Demikian sekelumit yang ungkapan kehidupan sebagian besar masyarakat Nagari Katiagan Mandiangin, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Posisi geografis yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, membuat akses dan transportasi menuju Nagari Katiagan Mandiangin penuh dengan tantangan. Rute menuju Nagari Mandiangin Katiagan dapat ditempuh dari tiga jalur.

Pertama, jalur ditempuh melalui jalan milik PT PMJ Kinali. Kita bisa menggunakan kendaraan roda empat sampai ke Mandiangin. Dari situ dilanjutkan dengan menggunakan Kapal Ponton (Kapal Penghubung) menyeberangi muara hingga sampai menuju Katiagan.

Kedua, melalui jalur rawa, dari Muara Bingung. Tranportasi yang digunakan pada jalur ini adalah perahu dayung. Namun jalur ini pun sangat tergantung kepada kondisi pasang surutnya air laut. Jika air laut surut, maka perjalanan menuju Katiagan harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Sedangkan jalur ketiga adalah rute berputar melalui Kecamatan Tiku, Kabupaten Agam namun jalur ini jaraknya semakin jauh, hampir dua kali lipat dari jalur pertama.

Luas wilayah Nagari Katiagan mencapai 19.600 Ha. Di sanalah hidup 4.614 jiwa yang sangat kental dengan budaya pesisir pantai. Maka tak heran bila 80% penduduk Nagari Katiagan berprofesi sebagai nelayan. Sisanya, 10% berwirausaha, 5% sebagai petani dan 5% lainnya bekerja sebagai pegawai negeri.

Pada Tahun Anggaran 2017 Nagari Katiagan mendapatkan Pagu Dana Desa sebesar 1,2 miliar rupiah atau sebesar 27.05% dari total pendapatan desa sebesar 4,4 miliar rupiah.

Nagari yang berjarak 45 kilometer dari kabupaten ini, terdiri dari dua Jorong, yaitu: Jorong Katiagan dan Jorong Mandiangin. Jorong adalah sebutan wilayah administratif di bawah nagari.

Antara kedua jorong tersebut dipisahkan oleh Sungai Batang Masang, yang di atasnya dibangun jembatan. Namun sayang, sudah lama putus. Padahal, Jembatan Taluok Batiang merupakan satu-satunya akses penghubung Jorong Katiagan menuju Jorong Mandiangin. Jembatan ini membentang sepanjang 167 meter.

Perbaikan pertama jembatan ini mulai dilakukan pada tahun 2015 dengan sumber dana yang juga dari Dana Desa, yaitu Dana Desa TA 2015. Pada saat itu, pekerjaan yang dilakukan adalah membangun pondasi dan lantai jembatan dari Pohon Nibung.

Barulah pada Tahun 2017 ini dialokasikan anggaran untuk perbaikan jembatan melalui Dana Desa Nagari Katiagan sebesar 220 juta rupiah. Pembangunan ini dilaksanakan secara swakelola oleh Tim Pelaksana Kegaiatan (TPK) Nagari Katiagan. Saat ini penyerapan dana mencapai 40% dan progres fisik telah mencapai 60%.

Selain daya tariknya yang cukup memesona, karena dapat memandang indahnya Laut Katiagan, keberadaan jembatan ini juga sangat dibutuhkan oleh warga setempat dan sekitarnya. Dengan diperbaikinya jembatan ini, selain dapat mengejar ketertinggalan warga sekitar juga mengurangi biaya dalam melakukan aktivitas keseharian.

Sebelumnya, sungai ini hanya bisa dilalui dengan rakit dan perahu yang harus disewa. Setiap kali warga yang hendak menyeberang harus mengeluarkan biaya sebesar 20 ribu rupiah, sebuah harga yang cukup tinggi bagi masyarakat setempat.

Namun kemudian, paska dibangunnya jembatan ini, transportasi semakin mudah dan murah. Menurut Wali Nagari Katiagan, Endang Putra, manfaat jembatan ini sangat dirasakan oleh masyarakat dalam menjalankan aktivitas keseharian. Semestinya keberadaan jembatan ini dapat meningkatkan taraf ekonomi warga.

Seorang warga sekitar mengungkapkan kebahagiaannya atas perbaikan Jembatan Taluok Batiang tersebut. Ia berharap dengan perbaikan jembatan tersebut dapat meningkatkan perekonomian warga sekitarnya.

Bila dihitung secara kasar, penerima manfaat jembatan ini sekitar 2.000 orang. Setiap harinya, rata- rata jumlah warga yang menyeberang jembatan sebanyak 50 orang. Sehingga rata-rata, setiap harinya jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh warga untuk melakukan penyeberang pulang-pergi adalah sebesar 2 juta rupiah. Tentu saja, jumlah uang sebesar itu sangat berharga bagi warga setempat.

Kini, Jembatan Taluok Batiang tidak hanya sebatas infrastruktur yang menjadi akses warga. Melainkan sebuah simbol kerjasama dan gotong royong masyarakatnya dalam pengelolaan Dana Desa secara swakelola. Sebuah proses pembangunan fisik yang sekaligus tanpa disadari meningkatkan (membangun) pula budaya gotong royong bagi masyarakat.

Dengan pengelolaan Dana Desa secara swakelola, diharapkan ada sebuah rasa memiliki yang tinggi terhadap infrastruktur yang dihasilkan. Semoga.

%d blogger menyukai ini: