Daun nangka mungkin bagi kebanyakan orang tidak memiliki arti, namun di tangan Sumarno daun nangka menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Sumarno mampu menyulap daun nangka menjadi karya kaligrafi dan siluet yang apik.

Berawal dari sulitnya mendapatkan pekerjaan karena persaingan yang semakin kompetitif, Sumarno mencoba mencari peluang lain dengan mengembangkan bakatnya di bidang karya seni. Dengan bakat yang dimiliknya, pria asal Grumbul Srowot, Desa Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas ini, memanfaatkan daun nangka kering sebagai media ukur dan kaligrafi.

Nama Inovasi Seni Ukir Daun Nangka
Pengelola Galeri Ukir Daun Nangka Eno Sunday
ALamat Grumbul Srowot, Desa Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah
Kontak Sumarno (Pengrajin)
Telepon +62-813-2533-7980

Di tangan Sumarno, daun-daun nangka yang biasanya terbuang dan membusuk begitu saja, diubah menjadi karya seni yang indah, dan bernilai ekonomi. Harga karya Sumarno dijual dengan harga bervariasi, antara 60 hingga 180 ribu. Tak hanya diminati pecinta seni dalam negeri, namun juga telah dikirim ke mancanegara.

Ide penggunaan daun nangka sebagai media ukir, dia dapatkan saat membaca berita unik. Dia terinspirasi oleh seorang seniman Spanyol yang menggunakan daun spanyol sebagai media ekspresi seni. Karena tidak menemukan daun spanyol di Indonesia, Sumarno berinovasi menggantinya dengan daun nangka. Ia hanya tinggal mengeringkan dan memilih daun dengan serat yang masih utuh.

Setelah itu menggambar sesuai dengan pesanan, kemudian mengukirnya dengan pisau . Jika diperlukan pewarnaan, Sumarno akan menggunakan cat dengan tehnik semprot sebagai variasi. Tak lupa agar lebih rapi dipajang dengan pigura.

Sumarno menyebarluaskan karya kreasinya melalui media sosial Facebook dan mendapat sambutan positif dari warganet. Kini, karya Sumarno telah menjadi ikon produk unggulan Desa Kedungwuluh Kidul.