Desa Balayon berada di Pulau Peling yang dikenal sebagai pusat keraga­man hayati di Wallacea. Pada 2017, warga dan pemerintah Desa Balayon berinovasi melakukan pemetaan keragaman hayati sebagai dokumen perencanaan konservasi lingkungan. Berkat inovasi itu, Desa Balayon berhasil menghijaukan kembali hutan yang pernah terbakar, bahkan dapat melindungi sumber air menjadi sumber utama pembangkit listrik desa.

Desa Balayon terletak di Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sebagai bagian dari Pulau Pening, Desa Balayon menjadi pusat konservasi aneka ragam hayati, seperti Tarsius pelengenses, Gagak banggai (Corvus unicolor), Kuskus Beruang (Ailurops ursinus), Gosong Sula (Megapodius bernsteini), Celepuk Peleng (Otus Mandeni), dan Kayu Hitam Sulawesi (Diospyros celebica).

Nama Inovasi Pemetaan Keragaman Hayati
Pengelola Pemerintah Desa dan Perkumpulan Salanggar
Alamat Desa Balayon, Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah
Kontak Ilyas Palalas (Perkumpulan Salanggar)
Telepon +62-852-4102-4630

Tantangan program konservasi adalah alih fungsi lahan oleh penebang liar sehingga habitat alami Wallacea mulai terancam. Hutan di Desa Balayon pernah mengalami kebakaran sehingga merusak lahan seluas 30 hektar. Hal itu menyebabkan sensitivitas ekosistem hutan di desa itu sangat rapuh.

Hutan Desa Balayon juga berbatasan langsung dengan laut di Teluk Liang dan perairan laut Pulau Peling sehingga pertumbuhan vegetasi hutan yang lambat, daerah tangkapan air (catchment area) yang kecil, serta solum tanah dangkal tipis dan miskin hara. Sejumlah jenis endemis khas Pulau Peling mengalami laju keterancaman tinggi dan diambang punah.

Selain itu, pengetahuan warga tentang pengelolaan lahan di daerah berekosistem yang sensitif masih rendah. Warga melakukan pengolahan lahan tanpa menerapkan prinsip-prinsip konservasi. Hal itu mengakibatkan bentang alam desa cepat rusak. Kerusakan alam menyebabkan kualitas penghidupan warga yang bergantung pada pertanian semakin sulit.

Harapan baru muncul saat ada program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dari Universitas Gadjah Mada di Desa Balayon. Mereka memfasilitasi musyawarah antarpihak untuk merumuskan rencana pemetaan keanekaragaman hayati desa. Salah satu hasil dari musyawarah adalah Pemerintah Desa Balayon, peserta KKN, dan Komunitas Pecinta Alam “Salanggar” bekerjasama melakukan kampanye dan penyadartahuan warga tentang ancaman ekosistem hutan di Pulau Peling.

Untuk menindaklanjuti kerjasama itu, pemerintah desa menyelenggarakan Focuss Group Discuss (FGD) untuk mengidentifikasi masalah dan potensi pengelolaan sumberdaya alam desa yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Selain itu, ada pelatihan dan pemetaan partisipatif tata guna lahan desa untuk menghasilkan peta dan kesepakatan bersama tentang zonasi desa berdasarkan peruntukkan dan fungsi, misalnya zona lindung desa, zona produksi, dan zona non produksi.

Inovasi yang dilakukan Desa Balayon memiliki peta zonasi hutan dan keragaman hayati, serta masalah dan potensinya. Berdasarkan dokumen itu, Pemerintah dan masyarakat Desa Balayon sepakat untuk mengelola sumberdaya alam desa secara partisipatif dan berkelanjutan. Peta menjadi alat bantu dan sumber informasi untuk perencanaan pembangunan desa, terkait pengelolaan hutan dan lingkungan.

Kini, masyarakat lebih tertib dan bijak dalam menggunakan lahan dan sumberdaya hayati. Desa Balayon memiliki 1,56 km hutan produksi dan 0,19 km hutan non produksi. Desa Balayon berhasil menghijaukan kembali hutan seluas 3.656 Km 2 yang pernah terbakar sehingga kondisi hutan semakin membaik. Selain itu, sumber air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) semakin terjamin.

Pengalaman Desa Balayon memberi pelajaran penting bagi kita semua. Kesadaran atas nilai ekologis mampu mening­katkan kepekaan serta tanggung jawab semua pihak untuk menjaga kelestarian sumber alam desa. Peta desa menjadi dasar pembuatan kebijakan tentang tata ruang dan tata guna lahan sehingga arah kebijakan pembangunan desa sekain tepat sasaran dan berkelanjutan.

%d blogger menyukai ini: