Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bareng Nyawiji mampu mengatasi luapan sampah di Desa Doplang. Mereka menyulap aneka sampah warga menjadi aneka barang berguna. Tak hanya hiasan bunga, tempat tisu, tas dan barang kerajinan lainnya.

Desa Doplang terletak di Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sampah plastik yang tak bisa didaur ulang disulap menjadi batako, bata cantik dan paving, khususnya sampah plastik keresek dan plastik pembungkus makanan. Sedangkan untuk sampah organik, dimanfaatkan menjadi kompos untuk pupuk tanaman.

Lokasi pengolahan sampah yang dikelola BUMDes Bareng Nyawiji menjadi jujugan masyarakat untuk belajar tentang pengolahan sampah. Bahkan, baru- baru ini, BUMDes juga mendapat penghargaan sebagai juara pertama lomba inovasi sampah menjadi bahan bangunan.

Keberhasilan tersebut menjadi kado terindah bagi seluruh masyarakat yang telah bersusah payah bersama-sama mengelola sampah. Sehingga, kini sampah tidak lagi menjadi bahan buangan.

Dicontohkan, bahan sampah plastik yang tak bisa diurai oleh bakteri di dalam tanah kini diolah menjadi bahan bangunan. Selain bata cantik sebagai pengganti batu candi alam, juga ada paving. Bahkan, pihaknya memberikan garansi jika paving tersebut pecah.

Pembuatan batako sampah sangat sederhana. Sebelumnya, sampah dibakar sehingga menjadi cair. Lalu cairan plastik dimasukkan ke dalam mesin cetak pres manual dan dibiarkan beberapa saat.

Kemudian, mesin pres dimasukkan ke dalam kolam berisi air agar cairan cepat mengeras. Lalu batako dikeluarkan dari mesin cetak dan dibersihkan.

Hasilnya, sebuah batako berwarna hitam mengkilap dan tahan pecah. Saat ini, pihaknya mengaku sedang menyelesaikan pesanan 10.000 paving. Dalam sehari, BUMDes mampu memproduksi paving sekitar 110 buah paving yang digarap dua orang.

Untuk satu buah paving dibutuhkan sampah plastik 3 kg. Harga paving ditetapkan sebesar Rp 6.000/ buah untuk pembelian kurang dari 3.000 buah.

%d blogger menyukai ini: