Apa yang dapat kita bayangkan dari sebuah desa di perbukitan? Udara sejuk, jalan berkelok dan mendaki, tanaman hijau tumbuh diatas tanah nan subur. Ya, demikianlah kondisi Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Nagari ini adalah nagari tertua di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Pada tahun 1915 pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Nagari Tigo Balai, yang merupakan gabungan wilayah Andaleh, Saribulan dan Cubadak Lilin.

Nagari Tigo Balai memiliki bentangan luas wilayah 26.934 km persegi, luas lahan pemukiman 167 Ha, luas lahan pertanian 245 Ha dan luas perkebunan 1.336 Ha. Ada 3,4 ribu jiwa penduduk, beraktivitas dan menggantungkan hidup di nagari ini.

Penduduk tersebar dalam 6 Jorong, yang merupakan pembagian wilayah administratif, berkedudukan di bawah Nagari. Enam Jorong itu yaitu: Jorong Sungai Buluah, Jorong Cubadak Lilin, Jorong Sari Bulan, Jorong Surau Lubuak, Jorong Andaleh, dan Jorong Taruyan.

Sebagian besar masyarakat bertani dan berkebun. Beberapa bagian kecil lainnya bekerja dan berdagang. Sedangkan para generasi mudanya bersekolah.

Topografi Nagari Tigo Balai yang tidak datar, serta kondisi jalan tanah, cukup menyulitkan masyarakat untuk ke sekolah, ke pasar, ke kantor Nagari, terlebih bagi petani yang akan membawa hasil panennya ke daerah lain.

Kala hujan turun, anak-anak pergi dan pulang sekolah tanpa sepatu. Mereka takut bila sepatu mereka kotor dan berubah warna, karena jalan yang mereka lewati adalah jalan tanah yang kemudian berubah karena hujan menjadi beberapa genangan lumpur.

Kondisi jalan yang berkelok dan berbukit di mana bibir jalan tidak tersangga dengan kuat, acap kali menjadi penyebab longsor. Akses jalan tersebut menambah kendala aktivitas masyarakat di Nagari Tigo Balai.

Pada Tahun Anggaran 2017 Nagari Tigo Balai mendapatkan pagu Dana Desa sebesar 841 juta rupiah atau sebesar 46,37% dari total pendapatan desa sebesar 1,8 miliar rupiah.

Porsi belanja terbesar dialokasikan pada bidang pembangunan nagari sebesar 879 juta rupiah. Porsi terbesar berikutnya dialokasikan pada bidang penyelenggaraan pemerintahan sebesar 573 juta rupiah.

Penggunaan Dana Desa bagi Pembangunan Nagari Tigo Balai memberikan kisah yang berbeda bagi kehidupan dan aktivitas masyarakatnya. Ambil contoh, pembuatan dan pengecoran Jalan Banio, Jorong Cubadak Lilin.

Jalan tersebut merupakan jalan desa antar pemukiman ke wilayah pertanian. Jalan yang dibangun sepajang 435 meter dengan anggaran Dana Desa sebesar 130 juta rupiah, telah membuka akses ke pemukiman dan lahan pertanian masyarakat.

Jalan mendaki yang hampir setengah kilometer itu biasa dilewati masyarakat untuk memanen hasil pertaniannya. Dengan akses jalan itu, masyarakat masyarakat lebih mudah membawa hasil pertaniannya pulang ke rumah, ke pasar atau ke tempat penggilingan padi.

Dengan kondisi jalan yang telah dicor pula, anak-anak sekolah tidak perlu melepas sepatunya bila hujan tiba, karena jalan tak lagi berlumpur.

Sekarang seluruh masyarakat Banio Jorong Cubadak Lilin, baik itu kategori petani, masyarakat biasa, pelajar sudah bisa memanfaatkan jalan yang telah dilakukan pengecoran dengan menggunakan Dana Desa, yang diterima oleh Nagari Tigo Balai.

Penggunaan Dana Desa lainnya di Nagari Tigo Balai dialokasikan pada pengedaman di Jalan Sangkak Puyuah, Jorong Saribulan sepanjang 147 meter, dengan ketinggian 2 meter. Proyek bernilai 162 juta rupiah ini memberikan manfaat pelebaran jalan, sehingga kendaraan roda dua dapat masuk ke perumahan warga.

Selain itu, pembangunan dam juga dapat mengantisipasi terjadinya longsor, sehingga, sawah, ladang dan kebun masyarakat lebih terlindungi dari dampak longsor.

Pemanfaatan Dana Desa yang tak kalah menarik lainnya ialah perbaikan banda kampung Jorong Saribulan sepanjang 320 meter. Pembangunan bernilai 90 juta rupiah ini telah mengubah nasib masyarakat sehingga saat ini mereka telah dapat melakukan kegiatan pertanian secara efektif.

Dalam setahun masyarakat sudah dapat melakukan panen padi sebanyak tiga kali. Padahal, dahulunya masyarakat hanya bisa bercocok tanam satu kali dalam setahun, karena harus bergantian mendapatkan air untuk mengairi sawah. Kini, saluran irigasi dari perbaikan banda menjadikan sawah-sawah dapat teraliri air dengan baik dan merata.

Betapa indahnya penggunaan dan pemanfaatan dana desa yang tepat, sehingga secara nyata meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Kemudahan akses meningkat. Kenyamanan jalan meningkat. Hasil panen meningkat.

Kesuksesan ini terjalin melalui perencanaan yang kuat, pelaksanaan yang cepat dan pengawasan yang ketat dari berbagai pihak. Sejatinya, kesuksesan inilah yang dilakukan oleh seluruh desa di Indonesia.

Diolah dari Kisah Sukses Dana Desa, Kementerian Keuangan 2017

%d blogger menyukai ini: