Ikan sepat, ikan gabus, Lebih cepat, lebih bagus

Pantun itu sering diucapkan banyak pidato. Pada saat peletakan batu pertama pembangunan gedung maupun pembukaan acara kongres. Ini pula tampaknya yang mengilhami para produsen ikan asin di daerah Danau Panggang, Kalimantan Selatan. Bagaimana bisa lebih cepat menyiangi atau membersihkan sisik ikan yang akan diolah menjadi ikan asin?

Ikan asin merupakan bahan makanan yang dibuat dari daging ikan yang diawetkan dengan penggaraman. Pengawetan dengan cara ini, membuat daging ikan dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu lama, bisa tahan berbulan-bulan, Selain itu, juga terhindar dari kerusakan fisik akibat serangan serangga, ulat lalat dan beberapa jasad renik perusak lainnya.

Bagi sebagian orang yang kehilangan selera makan, atau jenuh makan ayam dan daging, makan dengan lauk ikan asin akan meningkatkan gairah untuk makan. Baik ikan sepat maupun ikan gabus, keduanya bisa diasinkan. Baik ikan gabus yang besar dan berdaging tebal dari gabus maupun ikan asin sepat yang kecil, rasanya enak dan gurih.

Nama inovasi Alat dan mesin untuk menyiangi sisik ikan
Pengelola Kelompok Usaha Ikan Asin danau Panggang
Lokasi/alamat Desa Telaga Mas, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel)
Kontak Person Haji Yani (Kepala Desa)
Telepon +62-852-4999-6374

Bila dilakukan secara manual, menyiangi sisik dari satu ekor ikan besar saja, mungkin perlu waktu paling tidak seperempat jam. Bayangkan bila yang harus disiangi sisiknya mencapai satu ton. Oleh karena itu, mereka membuat alat untuk membersihkan sisik ikan secara mekanis.

Inovasi ini dibuat dari tangki air atau drum yang terbuat dari plastik dengan tinggi dan diameter sekitar 50 cm. Bagian samping drum kemudian dilubangi untuk memasukkan pipa ukuran 70 cm sedemikian rupa sehingga drum tetap kedap dan bisa menampung yang dimasukkan ke dalamnya.

Agar bisa berputar, pipa dihubungkan dengan motor atau generator yang diletakkan di samping drum tersebut. Bagian tengah pipa atau tongkat tersebut dilapisi dengan kain bekas karung goni.

Proses pembuatan ikan asin dimulai memasukkan ikan-ikan yang akan diasinkan ke dalam drum. Setelah air dimasukkan ke dalam drum, generator dihidupkan untuk memutar pipa. Gerakan mekanis ini mampu melepaskan sisik dari puluhan kilogram ikan hanya sekitar setengah jam.

Ikan yang sudah dibersihkan sisiknya ini, kemudian dibersihkan isi perutnya satu demi satu. Lalu disayat-sayat dan dipotong-potong sesuai standar yang diminta konsumen. Selanjutnya direndam dalam air garam selama lebih kurang 3 hari.

Air bekas rendaman ikan asin tersebut merupakan produk sampingan yang bisa diolah kembali produk inovatif yang disebut uyah wadi. Dicampur cabe, bawang dan beberapa rempah lainnya, menjadi ramuan saos yang siap dihidangkan untuk makan buah-buahan seperti mentimun, kedondong dan nenas.

Ikan dikeringkan dengan meletakkannya di atas para-para setinggi lebih kurang 1 meter di atas permukaan tanah dengan halaman terbuka yang terpapar penuh cahaya matahari. Penjemuran ini berlangsung sekitar 3 hari.

Rangkaian pekerjaan manual ini bersifat padat karya yang memberi lapangan kerja bagi banyak perempuan desa. Usaha pengolahan ikan asin ini juga membuka lapangan kerja untuk kegiatan budidaya dan perikanan tangkap, pengemasan dan pengepakan serta pengangkutan dan distribusi.

Untuk kegiatan pengemasan dan pengepakan saja, ada sekitar 20 orang yang terlibat. Mereka dibayar dengan upah antara Rp 50-100 ribu per hari.

Selain dibuat secara tradisional tanpa pengawet, bahan bakunya juga merupakan ikan segar pilihan. Itulah keunggulan ikan asin produksi desa-desa di Kecamatan Danau Panggang, tidak terkecuali yang ada di Desa Telaga Mas.

Tidak heran bila ikan asin dari sini digemari orang-orang dari berbagai daerah, termasuk sejumlah kota di Pulau Jawa. Jumlah ikan yang dikirim sudah mencapai puluhan ton per bulan.

Sebagian besar desa di Danau Panggang berada di kawasan rawa yang terhampar luas. Transportasi darat harus melewati titian kayu yang hanya bisa dilewati sepeda motor. Sarana transportasi air digunakan untuk mengangkut kardus-kardus ikan asin.

Dari tambatan perahu Desa Pararain, kardus-kardus itu diangkut ke hilir dan selanjutnya diangkut ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin menggunakan truk atau pick up.