Kini desa punya pesona. Tak sekadar eksotisme alam, beragam potensi mulai tergali, dan berkembang menjadi destinasi wisata. Adat, kuliner, tradisi, bahkan cara hidup ala kampung mampu menjadi subkultur baru yang menyedot perhatian kaum urban.

Perkembangan wisata desa senyampang dengan pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia yang terus melejit hingga angka 25,68 prosen. Kondisi tersebut makin fantastis bila dibandingkan dengan laju industri pariwisata di Asia Tenggara yang hanya tumbuh 7 prosen. Tak heran, pada paruh pertama 2017, tercatat jumlah pelancong asing sudah mencapai 7,8 juta orang.

Sektor pariwisata pada 2016 mampu menyumbang devisa sebesar US$ 13,568 miliar, berada di posisi kedua setelah CPO US$ 15,965 miliar. Pada 2015, devisa dari sektor pariwisata sebesar US$ 12,225 miliar atau berada di posisi keempat di bawah Migas US$ 18,574 miliar, CPO US$ 16,427 miliar, dan batu bara US$ 14,717 miliar.

Sejumlah pengamat memprediksi pada 2019, sektor pariwisata mampu mengalahkan pemasukan devisa dari industri kelapa sawit (CPO). Sektor industri kreatif juga ikut terdongkrak dengan kemajuan sektor pariwisata.

Di balik kesuksesan industri pariwisata nasional, paket wisata desa menjadi pendatang baru yang tengah molek-moleknya. Beragam destinasi wisata desa mampu memberi harapan atas perbaikan perekonomian masyarakat.

Sejumlah produk perdesaan pun mampu menembus dan bersaing pasar premium, baik pasar nasional maupun mancanegara. Wisata desa mampu menjembatani perbedaan sosial dan kultur antarbangsa.

Kemajuan moda transportasi, internet, dan jasa tour dan travel mampu memicu sektor wisata berkembang pesat. Tak mengherankan, sebagian besar kisah sukses dunia perdesaan selalu dimulai dari pendekatan wisata desa.

Pariwisata menjelma sebagai potensi desa paling meyakinkan, selain pertanian atau perikanan dan lainnya. Pengembangan desa wisata, terutama di daerah tertinggal, dapat menjadi langkah untuk memajukan perekonomian desa di Indonesia.

Berikut ini adalah destinasi wisata desa paling ngetop di daerah tertinggal, khususnya di Pulau Jawa, pilihan Tim Inovasi Daerah Tertinggal yang patut Anda kunjungi untuk mengisi liburan keluarga.

1. Desa Adat Baduy Desa Kanekes

Desa Adat Baduy terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Desa ini menjadi desa adat yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Provinsi Banten. Desa Kanekes terdiri dari 65 kampung, diantaranya dibagi menjadi dua wilayah, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Di Baduy Dalam sendiri ada tiga kampung yakni Cikartawana, Cibeo, dan Cikeusik.

perkampungan suku baduy desa kanekes

Para wisatawan yang berkunjung ke Desa Kanekes dapat menikmati alam dan budaya yang masih asli. Paket wisata ke Desa Adat Baduy menawarkan kebudayaan, sisi kehidupan, kearifan lokal, dan keindahan alamnya.

Untuk itu, para wisatawan wajib mempelajari dan mentaati sejumlah peraturan dan batasan-batasan selama di berkunjung dan tinggal di Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Desa Adat Baduy juga memiliki sejumlah produk tenun khas Baduy. Bahkan masyarakat Baduy telah mengantongi sertifikat hak cipta untuk motif Suat Samata Kembang Saka dan Suat Samata Adu Mancung. Simak lengkapnya di Lindungi Tenun Leluhur, Desa Kanekes Patenkan Motif Tenun Baduy.

2. Festival Pare Gede Desa Cirompang

Festival Pare Gede merupakan kegiatan tahunan Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Nama “Pare Gede” dipilih untuk mengangkat kearifan lokal praktik pengelolaan sumberdaya alam di Desa Cirompang dalam tata adat Kasepuhan.

festival-pare-gede-desa-cirompang-lebak

Dalam adat Kasepuhan, Pare gede menjadi simbol dari kekayaan hayati yang harus dijaga oleh masyarakat desa. Pare Gede juga menjadi singkatan dari Peduli Adat untuk Revitalisasi Gerakan Desa karena acara ini merupakan upaya mewujudkan semangat mengangkat adat sebagai acuan untuk membangun desa.

Festival Pare Gede memperkenalkan kasepuhan sebagai masyarakat adat yang telah ratusan tahun menjaga sumberdaya alam lokal melalui kearifan lokal. Festival ini menjadi ajang untuk menunjukkan kepada publik tentang bentuk-bentuk pengelolaan sumberdaya hutan oleh Kasepuhan, yang diwakili oleh Kasepuhan Cirompang dan Kasepuhan Karang. Simak infonya di Festival Pare Gede, Desa Cirompang Raih Kedaulatan Pangan Lewat Piranti Adat

3. Adat Kasepuhan Desa Warungbanten

Kami ieu mung Suku Sambu Badan Derma (Kami hanya menjalankan apa yang diperintahkan para leluhur untuk berjuang dan melestarikan adat). Demikian prinsip hidup masyarakat Desa Warungbanten, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Adat kasepuhan Warungbanten menganjurkan masyarakat untuk memiliki tradisi literasi yang baik desa.

Mereka memiliki Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kulimaca yang memberikan akses bahan bacaan secara gratis dan wahana bagi kelompok masyarakat untuk belajar beragam masalah sehari-hari. Selain menambah wawasan, TBM Kuli Maca merupakan wahana untuk menggali potensi dan membikin generasi desa cerdas, kreatif, dan inovatif.

adat kasepuhan desa warungbanten

Siapapun bisa memanfaatkan TBM Kuli Maca ini, mulai dari anak sekolah, pelajar, dan orang tua, baik dari dalam Desa Warungbanten maupun dari luar desa. Kegiatan ini menjadi daya tarik bagi masyarakat dan pegiat literasi dari luar desa. Simak kisahnya di TBM Kulimaca, Lahirkan Generasi Cerdas di Desa

Seren Taun merupakan festival tahunan Desa Warungbanten yang menjadi destinasi wisata masyarakat Lebak dan sekitarnya. Dalam Bahasa Sunda, seren artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi, berupa padi, yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung atau dalam bahasa Sunda disebut leuit.

Dalam tradisi masyarakat peladang Sunda, seren taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang.

4. Dewi Rengganis Desa Glingseran

Desa Glingseran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, memiliki destinasi wisata berupa Air Terjun Sulaeman dan mata air yang diyakini sebagai peninggalan Dewi Rengganis, putri Raja Majapahit, di lereng Gunung Argopuro. Keduanya merupakan modal dasar untuk mengembangkan gagasan Desa Wisata (Dewi).

taman rengganis desa glingseran bondowoso

Desa Glingseran tengah membangun sejumlah fasilitas pendukung, seperti jalan masuk ke area wisata dan penambahan wahana wisata seperti permainan flying fox, tempat istirahat, dan lainnya. Selain mempercantik wajah desa, program desa wisata mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa.

Pada 2017, Pemerintah Kabupaten Bondowoso menobatkan Desa Wisata Rengganis sebagai desa wisata terbaik dan destinasi wisata dengan kunjungan terbanyak di Kabupaten Bondowoso. Penghargaan ini menunjukkan kerja keras para pengelola Dewi Rengganis memiliki kinerja yang baik dalam mengelola daerah wisata di Kabupaten Bondowoso. Simak lengkapnya di Dewi Rengganis, Desa Glingseran Kembangkan Desa Wisata dari Situs Purba Dewi Rengganis

5. Wisata Rawa Indah Desa Alas Sumur

Siapapun warga Bondowoso, dan sekitarnya pasti pernah mendengar destinasi wisata ‘Almour’. Wisata yang mempunyai nama Rawa Indah ini terletak di pinggiran kota, sekitar 10 Km dari pusat Kota Bondowoso. Tepatnya di Desa Alas Sumur, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso.

objek wisata rawa indah almour alas sumur bondowoso

Wisata ini bertemakan alam dengan pemanfaatan air yang begitu melimpah dari sumber mata air sekitar. Disebut Rawa Indah karena bermula dari pemanfaatan Rawa yang dimiliki oleh desa. Sebelumnya rawa hanya dijadikan tempat mancing warga dan tempat nongkrong sore untuk menghilangkan kepenatan.

Lalu, Kepala Desa dan warga bahu-membahu membangun rawa ini hingga menjadi tempat rekreasi keluarga yang wow. Almour memanjakan anak-anak dengan aneka permainan seperti flying fox, aneka permainan anak, sepeda air, perahu kayu, kolam renang.

Selain itu, Almour cocok untuk tempat melepas penat dengan arena pancing segar dan sejuk. Sementara sang ayah memancing, sang ibunya bisa berjalan-jalan menikmati aneka kuliner yang dijual warga Desa Alas Sumur dengan harga yang sangat bersahabat. Simak kisahnya di Almour, Desa Wisata yang Wow untuk Harmoni Keluarga

Pada 2018, jumlah kunjungan wisatawan ke Rawa Indah Almour menempati urutan kedua terbanyak setelah Kawa Ijen, sebanyak 53.385 orang. Wow, ini menjadi sesuatu yang fantastis, mengingat Rawa Indah Almour adalah wisata baru yang dikelola olah pemerintah desa.

%d blogger menyukai ini: