Kopi Lembu. Nama kopi yang masih asing dan belum banyak orang yang mengetahuinya. Wajar saja, sebab Kopi Lembu memang belum diproduksi dan diperjualbelikan secara luas. Masih beredar di kalangan tertentu saja. Bahkan, nama Kopi Lembu pun belum secara resmi disematkan untuk kopi yang dibuat oleh Abdul Mukti, warga Desa Susukan.

Desa Susukan terletak di kaki sebelah selatan Gunung Slamet, tepatnya Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kopi Lembu ini merupakan hasil dari perkebunan kopi milik Abdul Mukti. Orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Pak Haji, Mbah Kyai, atau Haji Abdul Mukti. Beliau adalah salah seorang tokoh agama di Desa Susukan, tepatnya di Dusun Lembu Ayu.

Merek dagang Kopi Lembu karena lokasi perkebunan kopi terletak di Dusun Lembu Ayu. Kopi Lembu ini unik dan istimewa. Karena rasa dan aroma kopi ini berbeda dengan rasa dan aroma kopi pada umumnya.

Nama Inovasi Kopi Lembu
Pengelola BUMDes Desa Susukan
Alamat Desa Susukan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Kontak Rigih Bayu Ratri (Direktur BUMDes Desa Susukan)
Telepon +62-813-2265-3397

Kopi Lembu ini berasal dari kebun kopi Bapak Abdul Mukti. Kebun tersebut berada kurang lebih 300 m dari rumah beliau. Luasnya kurang lebih 200 ubin (2.800 m2) itu. Kebun tersebut ditanami sekitar 1.000 pohon kopi. Kopi Lembu menjadi istimewa karena pohon kopinya sendiri unik. Pola tanamnya pun menggunakan pola tanam organik.

“Kopi Lembu, istimewa bukan hanya karena rasa, tapi karena inilah kopi desa yang sesungguhnya.”

Pohon Kopi Lembu unik karena Abdul Mukti menggunakan sistem okulasi. Bagian bawah pohon adalah pohon kopi lokal Lembuayu. Bagian atasnya adalah pohon kopi robusta dari Sumatera. Didukung dengan pola tanam organik dan komposisi unsur hara tanah di Lembuayu, menjadikan Kopi Lembu memiliki rasa dan aroma yang istimewa.

Sistem pengolahan pasca panen Kopi Lembu juga berpengaruh dengan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Dengan sistem pengolahan pasca panen yang baik, biji kopi yang dihasilkan akan lebih mantap dan berkualitas. Selain itu juga mempengaruhi harga jual biji kopi.

Abdul Mukti saat ini bekerja sama dengan mahasiswa Unsoed Purwokerto untuk mengolah biji Kopi Lembu. Diolah menjadi bubuk kopi siap saji. Namun saat ini baru sebatas uji coba. Termasuk persiapan pengemasan dan memperkuat jaringan pemasaran. Karena itulah Kopi Lembu baru dapat dinikmati oleh kalangan tertentu saja.

Namun demikian, bukan berarti Kopi Lembu tidak boleh dinikmati masyarakat luas. Abdul Mukti senantiasa membuka pintu rumah beliau dan menjamu tamu-tamu beliau dengan Kopi Lembu, kopi unik dan istimewa dari Desa Susukan. Jadi, kapan kita ngopi?