Desa Birawan secara resmi menetapkan Peraturan Desa tentang Perlindungan Pesisir dan Laut Desa Birawan, Senin (4/12/2017). Penetapan Perdes itu dapat dilakukan setelah melalui proses asistensi di Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Flores Timur selama satu bulan.

Selain melalui proses asistensi, Pemerintah Desa Birawan juga melibatkan masyarakat merumuskan isi draf peraturan desa. Perdes ini merupakan komitmen asyarakat Desa Birawan untuk menciptakan ekologi pesisir dan laut yang baik.

Perdes Perlindungan Pesisir dan Laut merupakan payung hukum bagi kegiatan restorasi ekosistem terumbu karang dan konservasi penyu. Perumusan Perdes diawali dengan seminar bertema “Birawan Menuju Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis”.

Desa Birawan memiliki Pantai Bese Wewe (ada juga yang menyebutnya dengan Baso Wewe) yang menjadi lokasi yang khusus sebagai tempat ikan bertelur. Pemerintah dan masyarakat Birawan sepakat untuk melindungi lokasi itu supaya ketersediaan ikan terus lestari.

Kelompok Konservasi Terumbu Karang telah melakukan pemagaran lokasi ini dengan memasang tali berpelampung. Lokasi seluas 3800 m3 ini menjadi areal steril. Masyarakat Lewotobi dan dari luar dilarang untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan di lokasi ini, termasuk saat  air laut surut.

Berkaitan dengan perlindungan penyu, cakupan hukuman perdes sebatas hukum administrasi saja, tidak menghilangkan unsur pidana. Jika ada masyarakat yang tetap melakukan aktivitas penangkapan penyu, pengambilan telur penyu maka tetap diproses hukum pidana.

Berkaitan dengan nilai tradisi yang harus tetap dipertahankan, pengambilan penyu setelah bertelur  harus diputuskan dalam Musyawarah Desa dan tertuang dalam berita acara. Dengan adanya perdes ini maka unsur tradisi tidak dihilangkan tetapi juga serentak meredam upaya ekspolitasi penyu secara berlebihan.

Dalam tuturan tradisi, penyu yang datang bertelur dipandang sebagai “Lewo Tapi Tere“ kampung yang memangil. Untuk seruan panggilan ini, tradisi di Lewouran dan di Lewotobi harus tetap dipertahankan sebagai bagian utuh dari proses pemuliaan nilai relasi kosmik.

Mewujudkan seruan tradisi ini yang harus diputuskan dalam Musyawarah Desa menegaskan bahwa  ritual ini menjadi keputusan bersama dan harus dikomunikasikan dengan baik tentang nilai luhur di balik pengorbanan ini. Jika tidak dapat dikomunikasikan dengan baik kepada generasi muda dan pihak luar maka orang akan melihat sebagai sesuatu yang bertentangan.

Penetapan Perdes ini menegaskan bagaimana Desa dengan Kewenangan Lokal Berskala Desa telah mampu mengemas struktur nilai-nilai tradisi  sebagai landasan dalam membangun Desa dengan segala  khasana sosial budaya dan pendidikan masyarakat.

Pemerintah dan masyarakat Desa Birawan berharap Perdes itu mampu menjadi solusi bagi tata kelola pesisir dan laut yang lebih baik.

Penetapan Perdes Perlindungan Pesisir dan Laut dilakukan bersamaan dengan penetapan Perdes lainnya, seperti Perdes Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak (KIBBLA), Perdes tentang Perubahaan Perdes tentang Badan Usaha Milik Desa, serta Perdes Pungutan Desa.

Uran Oncu, Penulis dan Pengamat Warisan Budaya, Inisiator Pembangunan Desa Berbasis Budaya Ekologis