Komunitas Swabina Pedesaan (KSP) Salasae telah bertahun-tahun fokus pada pertanian alami. Bagi KSPS, pertanian alami merupakan perwujudan kedaulatan pangan. Petani mempunyai kuasa penuh terhadap tanahnya sebagai sumber kelangsungan generasi. Tak heran, Salassae dan desa sekitarnya di Kabupaten Bulukumba dikenal sebagai pelopor eksistensi kedaulatan petani dan kemandirian desa.

Kini, puluhan petani di Desa Salassae tekah meninggalkan bertani lama. Mereka beralih ke organik. Sebagian menikmati hasil, dan sebagian lagi sedang dalam proses penanaman. Hasil jauh berbeda, baik panen maupun rasa. Satu karung gabah beras biasa berisi 75 kg beras. Dengan karung ukuran yang sama, beras organik berkisar antara 95-114 kg.

Nama Inovasi Pertanian Alami
Pengelola Komunitas Swabina Pedesaan (KSP) Salasae
Alamat Desa Salassae, Kecamatan Bulukumba, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
Kontak Person Ponnong (Ketua KSP Salasae)
Telepon +62-822-9292-1195

Bertani organik, lebih hemat sekaligus menguntungkan. Penggunaan pupuk kimiawi di sawah seluas satu hektar biaya Rp 1,5 juta, dengan bahan organik, berupa campuran gula dan berbagai macam buah-buahan hanya Rp 80 ribu. Harga di pasaran bisa dua kali lipat dibanding beras biasa.

KSP Salassae tergolong komunitas petani tergolong unik. Sebagian besar petani ini jebolan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Mereka tak hanya belajar teknik bertani, tapi juga kajian globalisasi dan kedaulatan pangan. Mereka memiliki sekolah lapang yang dikepalai oleh petani tamatan sekolah dasar.

Syarat keanggotaan pun unik, yakni bersedia mengorganikkan sawah/kebun serta bersedia sebagai fasilitator untuk keluarga dan petani lain. Petani KSPS harus bisa membuat pupuk sendiri. Mereka biasa membuat pupuk kompos dikenal mikroba 3 (M3) secara gotong royong. Kotoran sapi sebagai bahan kompos. Tempat pembuatan tersebar di halaman rumah maupun lahan warga.

Aktivitas KSP Salassae didukung penuh oleh Pemerintah Desa Salassae, Kecamatan Bulukumba, Kabupaten Bulukumba. Pemerintah desa terlibat aktif dalam kegiatan peningkatan kapasitas manajemen dan kepemimpinan organisasi tani. Bahkan, mereka berencana untuk membuat peraturan desa terkait pertanian organik ini.

Pada Agustus 2017, Desa Salassae menerima penghargaan Proklim dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Desa Salassae meraih penghargaan tersebut berkat sebagian besar petani telah mempraktikan pertanian alami dan menjaga lingkungan secara berkelanjutan. (Sumber Bina Desa dan Mongabay)