Pemerintah Desa Blang Krueng bersama warga berinisiatif membangun taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) secara swadaya untuk menjamin anak- anak desa mendapatkan pendidikan awal dan dasar.

Pada 2004 Aceh dilanda bencana tsunami. Desa Blang Krueng menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Pembangunan kembali dilakukan termasuk merencanakan pendirian sekolah dengan membuat master plan pengembangan pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi pada 2006.

Nama Inovasi Pembangunan Sarana Pendidikan Desa
Pengelola Pemerintah Desa Blang Krueng
Alamat Desa Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Aceh
Kontak Teuku Muslem (Kepala Desa Blang Krueng
Telepon +62-852-1616-8828
Website http://blangkrueng.desa.id/

Desa Blang Krueng juga menerbitkan peraturan desa wajib belajar sampai sekolah menengah atas (SMA) pada 2013 Pemerintah Desa berupaya mengajukan proposal kepada dinas pendidikan, namun belum terealisasi.

Anak-anak kesulitan mendapatkan pendidikan formal karena tidak diterima bersekolah di desa tetangga dengan alasan kuota sudah penuh. Pada 2015, jumlah anak usia TK sebanyak 39 orang dan anak usia SD sebanyak 43 orang. Akhirnya, Desa menyediakan sarana pendidikan untuk TK dan SD secara swadaya untuk menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar bagi usia wajib sekolah.

Proses pembangunan sarana dan prasarana di atas bukanlah hal yang mudah. Pemerintah Desa menggelar pertemuan dengan warga dan tokoh masyarakat untuk membicarakan masalah yang dihadapi tersebut dan bersepakat untuk membangun sekolah secara swadaya demi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar TK dan SD. Pertemuan itu membentuk panitia penggalangan dana yang beranggotakan unsur kepala desa, tuha peut (lembaga adat), sekretaris desa, Ketua RT/RW, dan tokoh masyarakat.

Penggalangan dana akan dilakukan melalui acara pentas seni atau peringatan hari besar. Kurang dari seminggu dana yang terkumpul mencapai Rp 50 juta. Uang hasil penggalangan dana disimpan oleh Bendahara Desa. Selain uang, warga juga menyumbangkan tenaga untuk pembangunan sekolah. Pertanggungjawaban dana dipampang di kantor desa.

Sesuai dengan jumlah dana yang terkumpul, warga sepakat untuk memanfaatkan dan merenovasi ruang rapat serba guna milik desa dan Posyandu sebagai sarana belajar mengajar TK dan SD. Pemerintah Desa berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat perihal perizinan sekolah, penggunaan modul pembelajaran, perekrutan guru, dan pengelolaan sekolah.

Pemerintah Desa merumuskan pendirian yayasan dan struktur organisasi sekolah yang diisi kepala sekolah, guru, dan dewan guru. Pemerintah Desa melakukan perekrutan guru secara terbuka dengan mengutamakan tenaga lokal dan dikoordinasikan dengan dinas pendidikan. Disepakati nama sekolah TK dan SD tersebut yakni SD dan TK Islam Terpadu Hafizul Ilmi.

Tak begitu lama, Pemerintah Desa memperoleh izin operasional dan nomor pokok sekolah nasional dari Dinas Pendidikan Aceh Besar sebagai sekolah swasta yang berada di bawah naungan Pemerintah Desa. Pemerintah Desa mengalokasikan Dana Desa untuk penambahan kelas dan perangkat belajar mengajar untuk melengkapi kebutuhan siswa, antara lain meja untuk SD dan alat permainan edukatif untuk TK dan di tempat ibadah.

Langkah ini menjadi solusi dari permasalahan pendidikan di desa. Kini, seluruh anak usia TK dan SD di Desa Blang Krueng dapat mengenyam pendidikan formal di sekolah. Mereka memiliki 2 kelas untuk TK dan 6 kelas untuk tingkat SD.

Praktik inovasi yang dilakukan Desa Blang Krueng menunjukkan sarana pendidikan desa dapat dibangun secara swadaya berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dengan mengikutsertakan masyarakat dalam perencanaannya. Kekurangan sarana pendidikan dapat memanfaatkan ruang atau fasilitas yang ada. Kuncinya, kepemimpinan tegas dari Pemerintah Desa dapat mendorong proses formalisasi sarana pendidikan desa serta pemanfaatan tenaga lokal sebagai pengajar.

Sumber: Dokumentasi Pembelajaran Program Inovasi Desa