Penyelesaian masalah gizi memang cukup rumit. Masalah gizi tak sekadar berhubungan dengan kesehatan, namun berkaitan juga dengan masalah ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan lingkungan. Tak heran angka anak-anak kekurangan gizi di Indonesia masih tinggi, bahkan situasi yang sama masih dialami oleh masyarakat kategori usia non anak-anak.

Buah dan sayur berfungsi membantu meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan, dan mencegah pelbagai penyakit. Rendahnya ketahanan pangan dan daya beli masyarakat, salah satu penyebab masalah ini. Para Kader Posyandu dan Kelompok Wanita Tani yang ada di Desa Dabong, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya melalui program Generasi Sehat Cerdas (GSC) menjawab persoalan di atas dengan membuat kebun percontohan, yaitu Kebun Gizi dan Tanaman Obat Keluarga (Toga).

Nama Inovasi Kebun Sayur dan Tanaman Obat Keluarga
Pengelola Kader Posyandi dan Kelompok Wanita Tani Desa Dabong
Alamat Desa Dabong, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

Bagi masyarakat Desa Dabong yang terletak di wilayah pesisir, kegiatan menanam sayur tentu bukan perkara yang gambang. Pasang surut air laut kadang naik hingga ke pekarangan rumah sehingga air menggenangi seluruh pekarangan. Namun, situasi itu tidak membuat para pelaku desa, yang dimotori Leni Marlina dan Supriyati, patah semangat. Mereka berinovasi dengan mengembangkan kebun gizi dan toga dengan media tanam di polybag.

Inovasi di atas cukup berhasil. Kebun percontohan yang berlokasi di pekarangan rumah Ibu Leni dianggap cukup berhasil. Hasil kebun, berupa sayur-mayur segar dan organik, dapat mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk meningkatkan asupan gizi keluarga.

Bagi Program GSC, kegiatan ini masuk dalam program peningkatan gizi masyarakat berbasis lingkungan dan kesehatan. Pengembangan kebun dan toga dapat meningkatkan pola konsumsi sayuran untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama perempuan hamil dan balita.

Akhirnya pada 2016, kegiatan Kebun Gizi dan Toga dianggarkan kembali. Bedanya, media tanam yang digunakan bukan lagi polybag, tapi diganti dengan media pipa paralon (hidroponik). Pola tanam hidroponik disarankan menjadi pilihan karena pola tanam ini lebih efisien dalam penggunaan air.

Pola tanam hidroponik cocok diterapkan di daerah yang memiliki pasokan air sangat terbatas, seperti Desa Dabong. Selain itu, sayuran yang dihasilkan pun lebih terjamin kesehatannya karena memiliki nutrisi yang lengkap.

Kebun Gizi dan Toga yang digagas melalui program GSC yang ada di Desa Dabong yang berisikan berbagai tanaman sayuran dan apotik hidup nantinya tanaman dan sayuran ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari menjadi suplai vitamin dan aneka makanan pemenuhan gizi warga Posyandu.

Selanjutnya untuk keberlangsungan kegiatan di Posyandu, sebagian hasil kebun tersebut dijual sehingga ada perputaran modal. Saat ini yang sudah ditanam adalah jahe, kunyit, kencur, kangkung, cabe, sawi dan brokoli.

Selain itu untuk memanfaatkan lahan pekarangan Pustu akan ditanam pohon buah-buahan (mangga, lengkeng, sawo, jeruk dan belimbing) selain buahnya bisa dinikmati 4 atau 5 tahun kedepan, menanam tanaman produktif juga merupakan salah satu usaha penghijauan kembali, disini kita menamakannya Gerakan Tabung Pohon. Menanam satu pohon lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sebagai tanaman selingan diantara tanaman buah-buahan tersebut akan ditanami ubi rambat dan ubi kayu. Hasil dari tanaman ini kelak diharapkan selain menjadi suplay sebagai cadangan makanan tambahan di Posyandu, sebagian hasilnya bisa dijual, begitu seterusnya sehingga kedepannya baik Pustu maupun Posyandu sudah memiliki aset berupa tabung pohon buah-buahan.

Saat ini bibit tanaman buah-buahan tersebut belum dipindahkan masih dalam media polybag karena kesibukan pelaku yang notabene sebagai petani, sehingga setelah panen baru bibit tanaman buah-buahan tersebut ditanam di pekarangan Pustu yang ada di desa.

Banyak sekali manfaat yang di dapat dari program GSC, ibu-ibu menjadi memiliki kegiatan positif. Selain itu, kami pun dapat memanfaatkan pekarangan sehingga menjadi lebih hijau,” ujar Ibu Supriyati dan Ibu Leni selaku KPMD yang merupakan penggerak kegiatan kebun gizi ini.

Mereka merasa senang dapat membantu sesama warga desa melalui program yang sudah berjalan. Bisa bertemu dengan banyak orang terutama sesama KPMD dari desa lain, dapat bertukar pengalaman dan ilmu mengenai kesehatan juga didapat melalui kegiatan di Posyandu sebagai Kader.

Mereka berharap, program ini dapat berjalan terus sehingga semakin banyak warga yang terbantukan terutama dari keluarga RTM (Rumah Tangga Miskin).

Tim GSC Kubu Raya, Kalimantan Barat