Desa Bukian memiliki banyak sumber mata air. Namun, masyarakat desa kesulitan mengakses air bersih karena topografi desa yang berbukit-bukit. Kelompok Cipta Karya, Desa Bukian, menciptakan mesin kincir air untuk meningkatkan kualitas air yang ramah lingkungan. Inovasi teknologi ini memudahkan masyarakat mengakses air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Kelompok Cipta Karya merupakan salah satu kelompok masyarakat di Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Selain untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), masyarakat Desa Bukian memanfaatkan air untuk memenuhi kebutuhan pertanian, peternakan, usaha loundry, hingga usaha warung. Karena topografi desa di perbukitan, pada saat hujan kondisi air sering keruh sehingga warga sulit mendapatkan air minum yang higienis.

Nama Inovasi Teknologi Kincir Air untuk Penjernihan Air Minum
Pengelola Pemerintah Desa Bukian dan Kelompok Cipta Karya
Alamat Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali
Kontak
  • I Made Junartha (Kepala Desa Bukian)- +62-857-3834-4447
  • Wayan Budi (Kelompok Cipta Karya) – +62-813-3967-3385
  • Lokasi mata air jauh dari pemukiman masyarakat. Warga biasanya berjalan kaki cukup jauh, sekitar 3-5 Km, naik turun pegunungan, dengan waktu tempuh cukup lama antara 1-2 jam. Bermodal tekad, solidaritas, dan pengetahuan, pada 2008, sekelompok warga mendirikan Kelompok Cipta Karya untuk merancang mesin kincir air. Mesin ini dirancang sebagai alat untuk meningkatkan kualitas air yang biasanya keruh.

    Rekayasa mesin dimulai pada 2010 bermodal dana swadaya masyarakat. Mesin dirancang dengan teknologi sederhana, tapi ramah lingkungan, seperti tidak menimbulkan bising, tidak menghasilkan limbah, biaya operasional murah, dan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat. Biaya operasional dan perawatan mesin hanya Rp 120 ribu perbulan, biasanya untuk membeli pelumas.

    Pada 2015, Musyawarah Desa Bukian sepakat menetapkan penyediaan air bersih menjadi program prioritas desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) diberi mandat untuk mendirikan unit usaha PAM Desa. Modal usaha berasal dari swadaya masyarakat dan bantuan program Pamsimas senilai Rp 500 juta. Karena itu, Kelompok Cipta Karya menyerahkan pengelolaan mesin kincir air bersih pada Perusahaan Air Minum (PAM) Desa. Selanjutnya, PAM Desa melakukan pemasangan instalasi pipa untuk mendistribusikan air bersih ke rumah-rumah penduduk.

    Kini, PAM Desa melayani kebutuhan air untuk 269 KK. Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat hanya membayar iuran yang sangat murah antara Rp 3 ribu hingga Rp 10 ribu per KK, tergantung kapasitas pemakaian mereka. Dari penyediaan air minum, PAM Desa mampu meraup laba Rp 2,5 Juta – Rp. 3 Juta perbulan.

    Berkat kemudahan masyarakat mengakses air bersih, sejumlah usaha masyarakat berkembang pesat. Sebelumnya, sumber mata pencaharian masyarakat hanya bergerak di sektor pertanian. Kini, sejumlah usaha baru mulai tumbuh, seperti usaha loundrKecamatan Payangan Kabupaten Gianyar, Baliy dan peternakan. Usaha di sektor pertanian juga semakin bergairah karena pasokan air lebih terjamin.

    Inovasi teknologi yang dilakukan Desa Bukian mendapatkan apresiasi tingkat nasional. Desa Bukian menyabet desa terbaik untuk Lomba Cipta Karya Teknologi Tepat Guna tahun 2017. Desa Bukian memberikan pelajaran penting bagi pemanfaatan teknologi berbiaya murah yang mampu menyelesaikan permasalahan masyarakat.

    Desa Bukian berharap Pemerintah Kabupaten Gianyar membantu pengurusan hak paten atas inovasi mesin kincir air ramah lingkungan. Tujuannya, untuk meminimalisasi praktik akuisisi atau klaim penemuan oleh pihak lain yang cenderung merugikan Desa Bukian, sebagai inisiator sekaligus pencipta teknologi kincir air tersebut.

    %d blogger menyukai ini: