Siapapun yang berkunjung ke Desa Bone-Bone akan membaca papan pengumuman bertuliskan ”Anda Memasuki Desa Sehat”. Apa yang tertulis di papan pengumuman itu bukan isapan jempol, Desa Bone-Bone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini mampu menerapkan inovasi pada bidang kesehatan berupa Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Udara yang segar di desa yang terletak di lereng Gunung Latimojong ini semakin menguatkan tulisan tersebut.

Bone-Bone berada pada ketinggian 1.300-1.500 meter dari permukaan laut. Panorama alam pegunungan indah dan kabut tebal yang dingin selalu menyelimuti Bone-Bone. Kondisi ini membuat warga Bone-Bone banyak yang mengonsumsi rokok.

Bagi sebagian besar warga Bone-Bone, rokok menjadi alasan untuk menghangatkan diri dan melengkapi perbincangan sehari-hari, termasuk pada pertemuan resmi desa yang dihadiri puluhan orang. Kopi juga menjadi alasan lain untuk merokok. Bone-Bone merupakan daerah penghasil kopi Arabika, kopi terbaik tingkat nasional. Kopi dan rokok, bagai dua kekasih yang tak terpisahkan.

Nama Inovasi Strategi Desa Bone-Bone Menjadi Desa Sehat
Pengelola Pemerintah Desa Bone-Bone
Alamat Desa Bone-Bone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan
Kontak Abdul Wahid (Kepala Desa Bone-Bone)
Telepon +62-853-4112-2120

Awal tahun 2001, Muhammad Idris, Kepala Desa Bone Bone, menganalisis aktivitas rokok lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibanding sisi positifnya. Banyak uang yang terbuang hanya untuk membeli rokok. Terlebih, kebiasaan merokok mulai menular ke anak-anak karena mengikuti kebiasaan orang tua mereka yang merokok saat ada acara atau pertemuan desa.

Saat itu, Pemerintah Desa Bone-Bone mulai mengeluarkan aturan untuk tidak merokok di kantor desa dan sejumlah sarana publik lainnya. Pemerintah desa juga mengumpulkan semua tokoh dan warga yang mendukung aturan ini. Pemerintah Desa Bone-Bone mulai mengkaji strategi untuk menjadikan desa ini benar-benar bebas rokok.

Langkah lain yang dilakukan Muhammad Idris adalah anjuran tidak menjual rokok di warung-warung desa. Pemerintah desa mengeluarkan surat edaran yang berisi anjuran pada para pemilik warung di desa untuk tidak menjual rokok.

Muhammad Idris mengakui upaya menghentikan kebiasaan merokok tidaklah mudah dilakukan. ”Saat aturan mulai dijalankan, banyak warga yang merasa tidak puas. Bahkan, ada seorang warga yang menyatakan tidak bisa menjadi tukang kayu lagi kalau ia tidak merokok,” tutur Idris.

Muhammad Idris membulatkan tekad untuk terus menerapkan aturan tidak merokok sebagai langkah awal menuju desa sehat. Setiap hari, Idris berjalan mengelilingi desa, menyapa warganya dan bertanya, apakah mereka sudah berhenti merokok atau masih dalam proses berhenti merokok.

”Saya tidak pernah memaksa, hanya setiap kali saya bertemu dengan warga desa saya selalu mengajak mereka ngobrol seperti biasa sambil terus mengingatkan bahwa merokok tidak ada gunanya, bahkan berbahaya bagi kesehatan,” ungkap Idris.

Anjuran untuk berhenti merokok tidak hanya dilakukan melalui pendekatan personal kepala desa kepada warganya, juga diteruskan dalam pertemuan desa, dan dalam ibadah sembahyang Jumat dan acara pengajian desa. Selain cara persuasif, aturan untuk tidak merokok juga diikuti dengan sanksi. Jika ada warga desa yang merokok di jalan, warga tersebut harus membersihkan masjid dan jalan-jalan desa.

Sanksi ini terbukti efektif membantu warga desa dalam mengurangi kebiasaan merokok. Jerih payah Idris tidak sia-sia, semakin banyak warga desa menyadari dampak buruk merokok bagi kesehatan. Mereka yang telah berhenti merokok juga mulai merasakan manfaatnya terhadap perekonomian keluarga.

”Uang yang tadinya kami pakai membeli rokok, sekarang sudah bisa digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah anak-anak, membeli bibit, dan pupuk,” tutur seorang ibu.

Perubahan yang paling menggembirakan adalah menurunnya jumlah penderita penyakit ISPA dan paru-paru berkurang di Bone-Bone. Warga Bone-Bone merasakan manfaat inovasi yang mereka laksanakan. Mereka lebih hemat dan sehat.

”Sekarang ini, semakin sedikit warga yang memiliki penyakit ISPA,” kata perawat yang bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat Desa Bone-Bone.

Enam tahun selanjutnya, 2007, sudah tidak ada lagi warga Desa Bone Bone yang merokok. Hal ini merupakan contoh keberhasilan program inovasi desa. Atas pencapaian ini, Bone-Bone menjadi desa percontohan.

Bupati Enrekang, Haji La Tinro La Tunrung, sangat mengapresiasi upaya Idris dan warga Desa Bone-Bone. Selain memberi penghargaan, Bupati juga mereplikasi program Kawasan Tanpa Rokok di Desa Bone-Bone ke dua desa tetangga, yaitu Desa Kadinge dan Desa Kendena.

Pada dua desa tersebut, Bupati mengajak kepala desa, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk membuat Memorandum of Understanding (MoU) sebagai payung hukum penerapan Kawasan Tanpa Rokok di sana.

Hasilnya, dua desa mereplikasi Bone-Bone, menerapkan pembatasan daerah merokok pada sarana publik dan gedung pemerintahan. Mereka menyediakan tempat khusus untuk merokok.

”Saya sangat menghargai inisiatif ini. Bahkan sekarang saya juga sudah berhenti merokok,” kata Bupati Enrekang. Kini, dia turut menganjurkan jajarannya staf Pemerintah Kabupaten Enrekang untuk mengurangi dan menghentikan kebiasaan merokok.

Menyambut baik inisiatif Desa Bone-Bone untuk menjadi desa sehat, Bupati La Tinro La Tunrung kemudian memasukkan program Kawasan Tanpa Rokok kedalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tahun 2009-2013.

Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang juga telah mencanangkan seluruh desa di Kecamatan Baraka sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada 2011. Enam kecamatan lain di Kabupaten Enrekang ditargetkan menjadi Kawasan Tanpa Rokok pada 2012 dan seluruh Kecamatan pada akhir 2013.

Setelah berhasil menginisiasi Kawasan Tanpa Rokok, Muhammad Idris melanjutkan langkah menuju desa sehat dengan membuat dua aturan baru, yakni larangan memperdagangkan dan memelihara ayam yang disuntik hormon serta larangan mengonsumsi makanan dan minuman berbahan pengawet dan pewarna.

”Saya lihat banyak ayam yang disuntik hormon mati mendadak karena sakit. Saya kuatir banyak ayam tersebut terkena flu burung dan menularkan pada ayam-ayam di desa kami. Ini sangat berbahaya”, kata Idris dengan wajah serius.

”Begitu juga dengan makanan dan minuman yang berwarna-warni. Rasanya mungkin enak, tapi pengaruhnya buruk bagi anak-anak kami. Gigi-gigi mereka banyak yang rusak. Selain itu, anak-anak menjadi malas makan sayur dan buah. Bagaimana mereka bisa jadi generasi penerus yang cerdas dan sehat kalau kurang gizi?” lanjut Idris

Banyak tempat di berbagai belahan bumi menyatakan diri sebagai kawasan sehat, kota sehat, atau desa sehat. Tidak sedikit di antaranya yang kemudian sekadar menjadi wacana atau papan pengumuman, Bone-Bone berhasil membuktikan sebagai desa sehat.

”Pemikiran saya sederhana saja. Saya hanya ingin warga desa saya sehat agar desa ini maju,” tegas Idris dengan senyum tulus.

Praktik baik yang dilakukan Muhammad Idris merupakan contoh praktik inovasi desa yang patut ditiru. Pemikiran Idris sejalan dengan pemikiran Winston Churchill, seorang negarawan dan satu-satunya perdana menteri Inggris yang meraih penghargaan nobel untuk literatur, ”Masyarakat yang sehat adalah aset terbesar bagi suatu negara, yaitu “healthy citizens are the greatest asset any country can have.”.

Sumber: Praktik Cerdas Yayasan BaKTI dan informasi dari pendamping desa.