Di tengah munculnya kisah miris tentang korupsi Dana Desa, banyak desa yang sesungguhnya telah secara profesional mengelola Dana Desa, sehingga bermanfaat untuk menyarakat. Kampung Paya Tungel, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh adalah salah satu desa yang mampu mengelola Dana Desa secara optimal dengan peruntukan yang tepat bagi kesejahteraan masyarakat.

Kampung Paya Tungel merupakan pemekaran dari Kampung Jagong pada 2001 dan pernah dijadikan sebagai daerah tujuan transmigrasi dari berbagai daerah. Kampung ini terletak sekitar 45 km dari pusat kota Takengon. Berdasarkan data terakhir yang diperoleh, jumlah penduduk Kampung Paya Tungel adalah 1.312 jiwa.

Sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani atau menggarap kebun, hanya sedikit yang menjadi pedagang, tukang, dan Pegawai negeri Sipil (PNS). Secara umum kampung ini merupakan daerah lembah dengan ketingian 1200-1700 meter di atas permukaan laut.

Keberadaan Dana Desa pada 2015 telah memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan sektor ekonomi dan layanan publik. Kampung Paya Tungel memanfaatkan Dana Desa untuk tiga hal, yaitu pembangunan insfratruktur kampung, kebutuhan sarana prasarana, serta untuk memfasilitasi kegiatan ekonomi masyarakat.

Masyarakat Kampung Paya Tungel sangat bergantung pada hasil pertanian kopi, khususnya jenis arabika gayo. Maka, program pembangunan isnfrastruktur kampung menjadi prioritas, utamanya untuk mempermudah akses dari dan menuju lahan perkebunan warga, yaitu memperbaiki sejumlah gorong-gorong serta membangun drainase sepanjang 644 meter, hal ini dimaksudkan agar akses jalan tidak tergenang air dan becek, mengingat kampung Paya Tungel sebelumnya merupakan area bekas rawa.

Kebutuhan warga kampung akan ketersedian air bersih juga menjadi pokus perhatian. Pemerintah Kampung Paya Tungel, berdasarkan hasil musyawarah, dan dilaksanakan secara swakelola, sepakat melalui anggaran Dana Desa Tahap II tahun 2017, kembali dimanfatkan untuk perbaikan atau rehabilitasi jaringan gravitasi sumber air bersih, pembuatan bak-bak penampung serta pemasangan pipa standar menuju pemukiman warga.

Interaksi sosial dan budaya masyarakat seolah tak tak lekang oleh waktu dan zaman, kearifan lokal dan menjunjung tinggi nilai adat sampai saat ini masih terasa hangat dirasakanwarga Kampung Paya Tungel. Dilandasi dengan semangat gotong royong, mereka kembali melakukan pembukaan jalan terobosan sepanjang 700 meter, jalan terobos ini akan menghubungkan permukiman penduduk dengan areal perkebunan.

Guna memenuhi kebutuhan pembinaan mental masyarakat, khususnya bidang pengajaran agama, tak ketinggalan ikut dibenahi. Untuk meningkatkan kenyamanan warga terutama yang berusia belia dalam menuntut ilmu agama dan belajar membaca kitab suci, Dana Desa juga dimanfaatkan untuk Pembangunan Gedung Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) di Kampung Paya Tungel.

Dalam rangka mendukung pemerataan dan pertumbuhan ekonomi serta upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kampung Paya Tungel, Dana Desa kembali digunakan untuk menambah modal usaha dalam bentuk penyertaan Modal bagi Badan Usaha Milik Kampung (BUMKpg). Melalui pembentukan beberapa kelompok Warga Kampung Paya Tungel, dapat mmperoleh tambahan modal usaha ternak kambing dan sapi.

Selain itu sebagai kelanjutan dari kegiatan Kementerian Pertanian disana sejak tahun 2016, masyarakat kampung Paya Tungel akan meneruskan program bioindustri dengan pemanfatan kotoran ternak yang bisa diolah menjadi bahan bakar biogas untuk rumah tangga dan berhenti menggunakan kompor berbahan bakar gas elpiji.

Sebagai bentuk transparansi Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, serta untuk mencegah fitnah dan bentuk tanggung jawab moral, maka Aparatur Kampung Paya Tungel telah memasang Baliho dan Papan inforamsi diletakkan di Balai kampung yang berisi tentang informasi jumlah dan penggunaan Dana Desa dari APBN, Alokasi Dana Desa dari Daerah (baca; Kabupaten Aceh Tengah) dan Dana bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah.

Dana Desa menjadi modal bagi masyarakat Kampung Paya Tungel dalam berbagai bidang. Jalan, gorong-gorong, dan drainase yang dibenahi dengan sokongan Dana Desa mempermudah akses masyarakat ke daerah lain sekaligus membuat jalan lebih nyaman dilalui.

Dengan penggunaan Dana Desa yang berfokus pada infrastruktur tersebut, dampak dari keberhasilan pembangunan ini turut membangun perekonomian masyarakat.

Jika program bioindustri untuk pengolahan biji kopi arabika telah terlaksana, berarti Dana Desa pun turut andil mengembangkan ekonomi kreatif setempat dengan mengangkat ciri khas daerah tersebut.

Diolah dari Kisah Sukses Dana Desa, Kementerian Keuangan 2017

%d blogger menyukai ini: