Bengkoang merupakan produk unggulan Desa Linggasari. Desa ini mengusung konsep “satu desa, satu produk” atau one village one product (OVOP). Untuk mendukung potensi desa, Pemerintah Desa Linggasari membangun Pasar Bengkoang di Jalan Purwokerto-Purbalingga jalur utara. Pasar itu mampu menampung puluhan penjual bengkoang dengan omset penjualan mencapai 1-2 ton perhari.

Desa Linggasari terletak di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa Linggasari memang berjodoh dengan bengkoang. Desa yang berbatasan dengan Desa Karangturi ini memiliki tanah subur yang cocok untuk tanaman yang memiliki nama latin Pachyrhizus erosus.

Nama Inovasi Desa Sentra Bengkoang
Pengelola Pemerintah Desa Linggasari
Alamat Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Kontak Tuti Irawati S.Sos (Kepala Desa Linggasari)
Telepon +62 853-2862-2187
Wesbite http://linggasari.desa.id

Budidaya bengkoang memberi keuntungan lebih pada petani. Pada lahan seluas 500 ubin (7.000 meter persegi) petani dapat meraup hasil panen sebesar 16 juta. Dalam satu tahun, petani bisa melakukan tiga kali masa tanam. Dalam perhitungan bisnis, bengkoang menguntungkan karena bengkoang tanaman sepanjang musim.

Jumlah petani Bengkoang di Linggasari sekitar 60 petani. Dalam proses penggarapan lahan, penyiangan, dan pemotongan sungut (tunas) bisa menyerap ratusan tenaga kerja. Bengkoang termasuk tanaman yang jarang terkena hama sehingga memudahkan proses perawatannya.

Selain menjual bengkoang di pasar desa, kelompok tani Linggasari juga menyuplai bengkoang untuk wilayah Banyumas Raya, Brebes, Tegal, Jawa Barat, hingga Jakarta. Satu armada truk biasanya mampu mengangkut bengkoang hingga 5-6 ton.

Petani Linggasari biasanya menyemai bibit secara mandiri. Petani membuat benih dengan cara sederhana, yakni menyisakan beberapa bedeng untuk dijadikan bibit. Mereka tidak memotong sungut agar tumbuh bunga yang tumbuh menjadi biji. Wujudnya seperti kara yang berisi 5-10 biji.

Petani menyimpan bakal benih yang telah dijemur dengan cara diikat. Lalu, mereka menggantung bakal benih itu di pinggiran rumah menggunakan bambu. Kemandirian benih itu penting, karena bila petani harus membeli benih harganya cukup mahal, sekitar 70-90 ribu perkg.

Bengkoang telah memberi berkah bagi para petani di desa ini. Tak sedikit, warga yang dapat menunaikan ibadah ke tanah suci Mekkah berkat keberhasilan mereka dalam membudidayakan bengkoang, bahkan ada julukan khusus untuk mereka, yaitu Haji Bengkoang.

Pengembangan pasar untuk komoditas ini terus dilakukan. Pemerintah Desa Linggasari tengah membangun fasilitas rest area yang cukup luas untuk melengkapi fasilitas di Pasar Bengkoang Linggasari. Terlebih, Pasar Bengkoang Desa Linggasari selalu ramai pada Sabtu, Minggu atau hari libur karena letak pasar di jalur alternatif Purwokerto-Purbalingga.

%d blogger menyukai ini: