Siapa yang tidak mengenal pesona durian Kromo Banyumas. Durian lokal ini menjadi primadona masyarakat Banyumas dan sekitarnya karena ukurannya yang cukup besar, berwarna kuning oranye, dan rasa yang lezat di atas rata-rata. Sentra pembibitan durian kromo ada di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Banyumas. Dari desa ini, puluhan ribu pohon durian menyuplai kebutuhan seluruh negeri.

Sebutan Desa Alasmalang sentra durian memang bukan isapan jempol. Nyaris pekarangan tiap rumah terdapat pohon durian menjulang. Durian telah menjadi nadi hidup warga Alasmalang. Dari desa ini, lahir varietas baru yang konon ceritanya, bagi pencinta durian, lebih bermutu dibanding Montong Thailand.

Durian kromo yang dikembangkan oleh Saiman Kromo ini merupakan durian lokal asli. Pohon induknya berasal dari pohon durian berusia ratusan tahun yang tumbuh hutan dekat rumah beliau. Namanya durian Kromo atau lebih populer disebut durian Bawor. Bawor adalah identitas Banyumas yang juga berkonotasi serba besar.

Sesuai namanya, pohon durian Bawor cepat besar lantaran berkaki ganda. Setidaknya ada dua batang akar. Paling populer tiga akar. Lantaran berkaki lebih dari satu, pohon durian Bawor muda rakus makanan. Karena nutrisinya lebih dari cukup, si batang tanaman cepat besar dan cepat berbuah.

Buahnya pun besar-besar. Rata-rata berbobot antara tiga hingga lima kilogram. Banyak pula yang enam atau tujuh kilogram per buah. Daging buahnya berwarna kuning kemerahan. Makanya, durian Bawor juga disebut sebagai Montong Oranye. Rasanya luar biasa, manis, legit dan ada rasa sedikit pahit menempel di lidah.

Usaha produksi, pembibitan, dan pemasaran buah Durian Kromo Banyumas dilakukan Saiman dibantu pekerjanya. Meskipun bibit Durian Kromo Banyumas telah tersebar di beberapa daerah, hanya Durian Kromo yang ditanam di area desanya yang boleh dinamakan dengan nama Durian Kromo Banyumas.

%d blogger menyukai ini: