Pada 1998, minyak nilam menjadi produk unggulan Desa Rantoe Sabon yang mampu menembus pasar internasional. Komoditas nilam sempat terpuruk akibat kondisi ekonomi dan politik di Aceh Jaya yang tidak stabil. Kini, Desa Rantoe sabon kembali membudadayakan nilam untuk mengembalikan kejayaan nilam.

Desa Rantoe Sabon terletak Kecamatan Sam­poiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. Para petani telah membuat lahan pembibitan nilam (pogostemon cablin). Lahan percontohan seluas 3 hektar sedang digarap oleh Kelompok Tani “Makmu Beusare” dengan melibatkan 6 orang warga sebagai pengelola.

Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya menyambut gembira antusiasme warga Ranto Sabon yang ingin bangkit bersama dengan produk nilam. Pemerintah senantiasa mendukung setiap upaya yang dapat berujung pada kemampuan warga keluar dari kemiskinan.

Potensi Nilam sangat besar karena pasar parfum sangat tergantung pada nilam Indonesia, khususnya nilam Aceh Jaya. Nilam Aceh Jaya telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis.

Aceh Jaya memiliki lahan yang cocok untuk pengembangan budidaya tanaman nilam. Luas areal tanam saat ini sekitar 572 hektare yang terbagi di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Jaya, Sampoiniet, Setia bakti, Krueng Sabee, Panga dan Teunom.

Pada tahap pengembangan, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya menggandeng Atsiri Research Center (ARC) Unsyiah dan Bank Indonesia untuk pengembangan budidaya nilam di Desa Rantoe Sabon.

ARC Unsyiah mendampingi pengembangan lahan percontohan itu sebagai media edukasi masyarakat. Bank Indonesia mendukung sisi pendanaan untuk perluasan lahan budidaya.

Pembangunan pabrik penyulingan telah dilakukan bersamaan dengan pendirian pondok-pondok kerja masyarakat. Bila pabrik beroperasi maka roda perekonomian masyarakat akan bergerak.

Untuk melengkapi sisi pemasaran, inovasi desa wisata pun diterapkan dengan menghadirkan Desa Wisata Nilam. Melalui pendekatan wisata, bukan sekadar produk turunan dari nilam yang dijual, melainkan di dalamnya ada cerita, nilai, keyakinan, pengetahuan dan lainnya.

Masyarakat desa juga diedukasi agar menjadi masyarakat sadar wisata, terutama menjaga kebersihan desa, melayani pengunjung, dan bersikap ramah. Pemahaman masyarakat atas sektor pariwisata menjadi prasyarat penting untuk mewujudkan desa wisata.

%d blogger menyukai ini: