Desa Watugong mengembangkan Moke dan Anggur Lontar sebagai produk unggulan desa. Desa Watugong merupakan wilayah endemis pohon lontar atau disebut pohon koli (bahasa Sikka). Berkat Dana Desa, kini produk Moke dan Anggur sudah dikemas dalam botol menarik dan higienis.

Desa Watugong terletak Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Desa ini berjarak kurang lebih 5 Km dari Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Desa Watugong dihuni sekitar 2.200 penduduk. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dengan menjadi pengiris lontar dan pemasak nira untuk menghasilkan minuman keras tradisional moke.

Nama Inovasi Moke dan Anggur Lontar
Pengelola Pemerintah Desa Watugong
Alamat Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur

Desa Watugong sudah lama dikenal sebagai desa penghasil minuman keras tradisional yang dikenal dengan nama Moke. Dapat dikatakan miras lokal legendaris Sikka yang beredar di Sikka maupun dikirim ke daerah lainnya, berasal dari Desa Watugong.

Selama ini, para pengrajin moke menjual produknya langsung ke pasar dalam bentuk curah. Moke yang dijual, ditaruh dalam botol ataupun jerigen tanpa ada pengolahan atau proses pengemasan lebih lanjut. Akibatnya, harga produk tidak stabil, kadang harganya tinggi, kadang harganya sangat rendah.

Sejak 2017, Desa Watugong serius mengembangkan moke sebagai produk inovasi unggulan dari desa. Untuk meningkatkan kualitas dan harga moke, Pemerintah Desa mendorong produk moke dikemas dalam kemasan botol yang menarik. Pemerintah Desa mengalokasikan dana sebesar 150 juta rupiah untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Usaha sebagai pelaksana proyek inovasi pengolahan moke menjadi minuman tradisional khas desa.

Pemerintah Desa Watugong berkomitmen untuk mengembangkan produk olahan moke karena moke merupakan potensi unggulan desa yang perlu digarap secara maksimal. BUMDes Mitra Usaha membeli moke dari petani, lalu disuling ulang untuk menciptakan warna dan rasa yang sama, termasuk menetapkan kadar alkohol 25-30 prosen secara teliti.

BUMDes telah memiliki alat ukur alkohor atau alkoholmeter untuk mengukur kadar alkohol moke yang dibeli dari pengrajin moke. Moke yang dibeli kemudian disuling ulang untuk menjadi moke dalam kemasan botol 485 ml dengan kadar alkohol bervariasi antara 25-30 prosen.

Selain moke, Desa Watugong juga memiliki produk minuman dengan kadar alkohol yang lebih rendah, yaitu 5-10 prosen. Produk itu dinamakan Anggur Lontar. Baik Moke maupun Anggur Lontar dikemas dalam botol dengan takaran 485 ml.

Meski dibuat dari bahan baku yang sama, Moke dan Anggur Lontar memiliki rasa dan warna yang berbeda. Moke warnanya bening, sedang Anggur Lontar berwarna kuning kecoklatan. Moke dibanderol dengan harga Rp 60.000 perbotol, sementara Anggur Lontar dijual dengan harga Rp.50.000 perbotol.

Moke dan Anggur Lontar dari Desa Watugong sudah diminati pasar. Kini, mereka tengah mengurus perizinan sebagai minuman keras dalam kemasan melalui Badan POM dan instansi berwenang lainnya. Bila izin sudah didapatkan maka produk unggulan desa ini dapat dipasarkan secara lebih meluas tidak hanya di wilayah Kabupaten Sikka.

Pengembangan produk unggulan desa di atas merupakan salah satu bentuk perencanaan desa yang tertuang dalam RPJMDes. Inovasi tersebut membuat Desa Watugong mampu menyabet predikat Juara II dalam Perencanaan Desa se- Provinsi NTT pada 2017 untuk kategori prakarsa dan inovasi.

Pemerintah Desa Watugong berharap Pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Provinsi NTT dapat membantu legalisasi minuman keras tradisional ini. Ke depan, Moke dan Anggur Lontar bisa berdiri sejajar dengan minuman keras semacam Arak Bali dan Cap Tikus yang sudah mendapatkan perizinan dari Badan POM.

%d blogger menyukai ini: