Desa Tri Sakti, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan secara resmi terbentuk pada tahun 2000. Cikal bakal desa ini telah dimulai sejak tahun 1980-an melalui para transmigran dari pulau Jawa yang datang membuka lahan secara berangsur-angsur.

Para pendatang bersuku Jawa, Sunda dan Madura bergabung dengan penduduk asli setempat yang menyebabkan masyarakat desa umumnya terbiasa berbicara bilingual, bahasa Palembang dan bahasa Jawa.

Generasi mudanya kebanyakan disebut Pujakesuma alias Putera Jawa Kelahiran Sumatera. Penduduk Desa Tri Sakti mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani perkebunan karet, lalu sebagian kelapa sawit, padi dan lain-lain.

Dana Desa memang baru bergulir 3 tahun. Namun, berkat gelontoran dana dari pemerintah inilah perlahan-lahan asa untuk desa yang lebih sejahtera di Desa Tri Sakti sedikit demi sedikit mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Asa menjadi pengembang budi daya jamur tiram mulai terkembang dengan dana desa, rumah budidaya jamur dibangun. Di sanalah bibit dan backlog (sarana tumbuh jamur yang dibuat dari campuran dedak dan sekam padi) diusahakan.

Keinginan ini juga didukung oleh warga setempat yang berbondong-bondong membangun usaha industri rumahan pengolahan jamur. Pembuatan makanan ringan seperti jamur krispi pun dilaksanakan oleh ibu-ibu PKK yang pelatihannya juga didanai dari dana desa.

Dengan modal yang tidak terlalu besar, industri jamur ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga desa. Kesejahteraan masyarakat desa secara keseluruhan pun meningkat.

Pemerintah Kabupaten sendiri telah berkomitmen untuk membantu dari sisi penyiapan pasar dan pengemasan serta izin BPOM sesuai standar agar bisa dijual di toko- toko swalayan dan diekspor ke luar Kabupaten Musi Rawas.

Selama ini, sentuhan infrastruktur kurang dirasakan oleh warga Tri Sakti. Kualitas jalanyang kurang baik tentunya menghambat distribusi hasil pertanian, terutama bila musim hujan tiba.

Karena itulah, hal pertama yang dibangun adalah jalan desa sepanjang 215 meter untuk memudahkan aktivitas warga. Selain jalan, siring (saluran drainase) pun dibangununtuk mengantisipasi banjir atau meluapnya air.

Tak hanya itu, lampu-lampu jalan dibangundi rumah-rumah untuk menerangi desa. Desa yang dulu kerap gelap gulita, kini menjadibercahaya. Warga tak lagi ragu dan takut bila harus keluar pada malam hari. Uniknya lagi,pada setiap lampu jalan tertera nama kepala keluarga pemilik rumah tersebut sehingga setiap warga jadi saling mengenal satu sama lain.

Budaya desa adalah budaya kebersamaan dan kesetaraaan. Pengerjaan infrastruktur tidak dilakukan oleh orang lain, melainkan warga desa Tri Sakti sendiri dengan cara swakelola.

Selain karena budaya gotong-royong yang sudah mengakar, pekerjaan fisik yang diswakelolakan ini mampu menambah penghasilan warga setempat.

Sebagian besar warga Tri Sakti adalah petani karet. Harga karet yang jatuh sedemikian rupa membuat ekonomi warga menjadi limbung.

Dengan upah kerja berkisar 80 ribu sampai dengan 100 ribu per hari, dengan rata-rata lama pengerjaan proyek fisik selama 120 hari, pendapatan ini sudah sangat lumayan bagi warga desa yang selama ini mengandalkan hasil perkebunan karet yang sering tak menentu harga jualnya.

Pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak di bidang penjualan pupuk dan kebutuhan pertanian dan perkebunan pun dilakukan. Hal ini guna kemandirian desa untuk memenuhi kebutuhan warga yang memang mayoritas petani sembari menggali pendapatan asli desa.

Asa warga yang perlahan-lahan mulai bertumbuh ini yang harus dijaga. Warga bersyukur dengan perkembangan desa saat ini dan berharap ke depan cakupan dana desa bisa saling bersinergi dengan desa lain untuk memperbaiki akses jalan dari Desa Tri Sakti ke Pasar Megang Sakti.

Jalan sepanjang dua kilometer yang sangat penting guna mengangkut hasil pertanian dan produksi jamur ke pasar ini kini telah rusak parah. Asa ini semoga segera menemukan jawabannya.

Salah satu kunci sukses dalam menjaga asa tersebut adalah keputusan yang tepat atas aspek fokus penggunan dana. Penilaian terhadap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh desa dapat menghasilkan keputusan tersebut.

%d blogger menyukai ini: