Suluk dalam bahasa Jawa berarti tembang yang berisi puji-pujian atau petuah. Makna tersebut tercermin pada kesejukan desa yang berada di lereng barat Gunung Wilis ini. Suasana yang dingin sesuai bagi pengembangan agrobisnis di desa ini.

Berjarak sekitar 30 km dengan waktu tempuh 60 menit dari Kabupaten Madiun. Suluk memiliki luas wilayah 567 ha dengan didominasi 28 persen area hutan, dan 22 persen area perkebunan dan 17 persen area pertanian.

Desa Suluk terletak di Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Desa yang memiliki semboyan “Siaga Ngudiwaluyo” ini memiliki jumlah penduduk seribu empat ratus jiwa yang sebagian besar bekerja sebagai petani, dan buruh migran.

Sebagai desa agrobisnis, Suluk mengunggulkan hasil perkebunan seperti rambutan, manggis, alpukat, dan yang paling khas, durian. Dengan Dana Desa, Pemerintah Desa Suluk mendesain pelatihan pengolahan dodol durian, dan mengembangkan kerjasama dengan PT Ice Cream Campina sebagai pengguna hasil Durian Suluk.

Selain itu, desa ini merupakan jalan akses menuju tempat wisata Telaga Ngebel. Beragam potensi desa dapat berkembang pesat dengan adanya kunjungan wisatawan yang terus meningkat.

Dana Desa yang telah digulirkan sejak Tahun 2015, memberikan dampak pembangunan dan pemberdayaan warga Suluk. Program-program yang dibiayai dana desa mampu menurunkan data penduduk miskin; menurunkan angka rumah tidak layak huni; dan mengembangkan jumlah industri rumahan dari dua industri pada tahun 2015 menjadi delapan di tahun 2017.

Infrastruktur di desa ini juga semakin baik dan terbenahi, dari 15 km pada tahun 2014, menjadi 20 km pada tahun 2017.

Pada tahun 2017, Suluk memiliki pendapatan Desa sebesar 1,3 miliar rupiah di mana 60 persennya adalah Dana Desa. Terhadap pendapatan tersebut, Desa Suluk mengalokasikan belanja pada Penyelenggaraan Pemerintah Desa, Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan, dan Pemberdayaan Masyarakat.

Pada Tahun 2017 ini, Desa Suluk mulai mendesain BUMDesa dengan mengalokasikan modal awal Rp 35 juta, sebagai langkah awal mengembangkan usaha ekonomi kemasyarakatan dengan penguatan usaha rumahan.

Bagi Desa Suluk, guliran Dana Desa yang baru tiga tahun adalah dorongan untuk menguatkan pola pikir masyarakat desa yang gotong royong, komitmen dalam transparansi pengelolaan, mewujudkan akuntabilitas pertanggungjawaban dan membangun kepercayaan kepada pemimpin desa.

Harapan Desa Suluk menjadi Desa Agropolitan tujuan wisata akan dapat terwujud dengan dukungan Dana Desa.

%d blogger menyukai ini: