Desa Pasi Padangan merupakan salah satu desa dari delapan desa di wilayah Kecamatan Maginti yang teletak 23 km ke arah barat Raha. Desa ini hanya memiliki wilayah seluas 0,5 Ha. Untuk mencapai ke lokasi Desa Pasi Padangan, masyarakat harus menyeberang menggunakan kapal kerapu dalam waktu satu jam dari Desa Maginti di Pulau Muna, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara.

Desa yang berupa pulau ini terbentuk dari endapan pasir putih dengan ketinggian daratan kurang dari dua meter diatas permukaan laut. Uniknya, di pulau ini hanya terdapat dua pohon kelapa. Ini menunjukkan betapa tandusnya pulau yang berada pada kordinat 04 o 58’242’’ lintang selatan dan 122 o 10’649” bujur timur ini.

Desa Pasi Padangan memiliki 2 dusun dan 4 RT dengan jumlah penduduk sebesar 513 jiwa atau 127 KK. Jumlah ini tergolong cukup padat untuk sebuah desa dengan ukuran kecil.

Mata pencaharian utama di Desa Pasi Padangan adalah nelayan. Apabila pada musim tertentu ketika air sangat pasang maka sebagian masyarakat tersebut akan mengungsi ke Pulau Maginti yang memiliki daratan lebih luas dikarenakan sebagian Desa Pasi Padangan tersebut akan tertutupi air laut. Dengan kata lain, desa ini mengalami “masa pengungsian” pada musim laut pasang.

Keterbatasan yang muncul dari berbagai sektor pada Desa Pasi Padangan membuat pengelola keuangan harus lebih bijaksana dalam mengalokasikan Dana Desa sebagai satu-satunya sumber pendapatan demi kemakmuran masyarakat setempat.

Meksipun Desa Pasi Padangan yang berada di tengah laut, masyarakat Desa Pasi Padangan sangat memerlukan sumber air tawar untuk kebutuhan konsumsi hari lainnya, mengingat air laut tidak dapat dikonsumsi secara langsung. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat Desa Pasi Padangan harus membeli air tawar di Desa Maginti (di Pulau Muna) dengan waktu tempuh 1 jam menggunakan transportasi laut dengan harga Rp 10.000,- /20 derigen.

Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa proyek penyulingan air laut menjadi air tawar ini merupakan prioritas pertama menggunakan alokasi Dana Desa Tahun 2016.

Dengan pengelolaan Dana Desa yang baik, saat ini masyarakat setempat dapat menikmati air bersih dengan harga Rp 7.500,- / 20 derigen tanpa perlu membeli air dari Desa Maginti yang berjarak cukup jauh. Dana yang terkumpul kembali digunakan untuk operasional dan pemeliharaan sarana penyulingan.

Meskipun berprofesi sebagai nelayan, selama ini masyarakat desa belum memiliki tempat untuk menampung sementara hasil melaut, termasuk tempat mereka bermusyawarah, menambah kapasitas pelatihan, dan kegiatan produktif kepemudaan lainnya. Untuk itu dibangun sebuah gedung serbaguna yang saat ini progress pembangunannya sudah mencapai fisik 20% menggunakan Dana Desa tahun 2017 sebesar Rp 262.898.000,-.

Prioritas berikutnya dalam penggunaan dana desa adalah pengadaan mesin diesel mengingat Desa Pasi Padangan merupakan salah satu desa yang belum teraliri listrik (PLN).

Anak-anak desa tersebut yang mengalami keterbatasan dalam belajar karena kurangnya penerangan menjadi lebih terbantu. Sebelumnya, sebuah Sekolah Dasar di desa tersebut hanya menggunakan penerangan dengan lampu minyak yang justru memakan biaya yang lebih tinggi.

Hasil melaut juga sebelumnya tidak bisa disimpan karena tidak ada listrik untuk menyalakan mesin pendingin. Untuk itu, Desa Pasi Padangan mengadakan dua unit mesin diesel yang digunakan sebagai pembangkit listrik mesin penyulingan air laut menjadi air tawar dan satu unit lainnya digunakan untuk kebutuhan penerangan desa.

Desa Pasi Padangan kini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Kucuran Dana Desa yang dimanfaatkan secara optimal melalui pengadaan berbagai fasilitas dan sarana penunjang kebutuhan masyarakat berhasil membuat desa tersebut kini kian tumbuh. Geliat usaha yang dilakukan masyarakat desa setempat tampak lebih berdaya guna untuk membangun kesejahteraan desa bersama.

%d blogger menyukai ini: