Dari Gardu Pandang Gunung Lanang Mergolangu, kita dapat memandang hamparan pepohonan hijau yang mengelilingi Waduk Wadas Lintang. Kilau pantulan air memberi sensasi tersendiri bagi para penikmat wisata saujana. Terlebih, Desa Mergolangu berada di ketinggian 1.102 meter di atas permukaan laut sehingga selalu dibalut hawa sejuk alam pegunungan.

Desa Mergolangu merupakan tujuan wisata baru yang sedang dikembangkan di Kabupaten Wonosobo. Letaknya di ujung Kabupaten Wonosobo, berbatasan langsung dengan dengan Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Desa Mergolangu memiliki topografi dataran tinggi yang dikelilingi hutan dan pegunungan, menjadikannya berhawa dingin.

Desa Mergolangu terletak di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Lebih jauh, dilihat dari topografi, sekitar 9 prosen dari keseluruhan wilayah digunakan sebagai pemukiman penduduk dan 14 prosen wilayah merupakan hutan. Sisanya adalah kebun, tegalan, dan lading.

Perjalanan menuju lokasi wisata memang cukup melelahkan karena medannya yang menanjak, tetapi terbayar lunas dengan sajian panorama alam dan keramahtamahan penduduk desa. Selain gardu pandang, masih banyak wahana-wahana menarik lainnya yang ada di Desa Mergolangu, seperti Puncak Memean, Curug Kalicoklat, Gua Kelelawar, Puncak Serangan, dan Bukit Tumenggung. Semua spot tak kalah indah dari gardu pandang.

Desa Mergolangu terdiri dari tiga dusun yaitu yaitu Dusun Prigi, Dusun Wonosari, dan Dusun Mergolangu. Desa ini mempunyai jumlah penduduk sebanyak 1.819 jiwa. Mayoritas penduduk bekerja pada sektor pertanian, lainnya bekerja sebagai pedagang, supir, buruh migran, PNS, dan TNI.

Sayang, sekitar 39 prosen penduduk Mergolangu masih berada di bawah garis kemiskinan. Untuk itu, Pemerintah Desa Mergolangu perlu adanya terobosan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan penduduknya.

Kontribusi Dana Desa sangat penting dalam menggerakkan pengembangan masyarakat desa. Dari struktur APBDes Tahun 2017, Desa Mergolangu mendapat Dana Desa sebesar Rp 814 juta. Dana Desa diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur, pelayanan sosial dasar, dan peningkatan kapasitas ekonomi desa.

Salah satu fokus pemanfaatan Dana Desa adalah pengembangan Desa Mergolangu menjadi desa wisata. Hal tersebut didukung nilai lebih Desa Mergolangu dalam menginisiasi dan menangkap keunggulan komparatif geografis, sekaligus adanya dukungan penuh masyarakat dalam mengembangkan wisata yang pastinya mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Mergolangu.

Pemanfaatan Dana Desa dalam pengembangan wisata Desa Mergolangu dapat dikatakan sangat berhasil. Desa Mergolangu merupakan salah satu desa yang mendapatkan penilaian kinerja baik dari 122 desa yang ada di Kabupaten Wonosobo.

Bahkan, desa ini menjadi salah satu desa yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo karena dinilai sukses memanfaatkan Dana Desa untuk pengembangan wisata.

Pemanfaatan Dana Desa diluar pengembangan wisata juga turut dilakukan. Pembangunan non-fisik dalam rangka peningkatan sumber daya manusia tetap dilakukan untuk mendukung pembangunan fisik karena sejatinya keduanya saling melengkapi.

Dalam waktu tiga tahun berjalan, Dana Desa merupakan stimulus dalam pembangunan di Desa Mergolangu, khususnya dalam pengembangannya menjadi desa wisata. Dana Desa memberikan kontribusi sebesar Rp26 juta (2015) dan meningkat mencapai Rp246 juta (2016) dan Rp200 juta (2017).

Dalam usaha pengembangan Desa Mergolangu menjadi desa tujuan wisata, dilakukan berbagai hal seperti pembangunan sarana dan prasarana. Masyarakat pun berperan besar untuk membangun secara gotong royong, termasuk untuk pembuatan jalan di lokasi.

Alam yang berbukit dengan bentang pergunungan di sekelilingnya bukan hanya menyajikan pemandangan yang indah, melainkan juga memberikan tantangan tersendiri bagi penduduk desa.

Untuk menuju Desa Mergolangu, kita harus melewati hutan pinus milik Perhutani dengan kondisi jalan yang berlubang dan mendaki. Sebagian bahkan masih berupa jalan berbatu yang belum diaspal. Sebagai desa yang ingin membidik sektor pariwisata, Desa Mergolangu perlu banyak berbenah.

Kegiatan pembangunan fisik yang didukung dengan penggunaan Dana Desa berupa pembangunan infrastruktur jalan, pembuatan drainase, dan talud jalan telah terlihat hasilnya sehingga dapat mendukung percepatan desa wisata.

Hasil pengembangan desa wisata telah tampak memberi kontribusi kepada APBDes, utamanya dari hasil penjualan karcis tanda masuk ke lokasi wisata. Bertindak selaku pengelola objek wisata ini adalah BUMDes.

Secara ekonomi, desa wisata juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat desa, mulai dari petugas parkir, pengusaha warung makanan, sampai penyedia layanan transportasi seperti tukang ojek. Pembangunan wahana wisata memberdayakan tenaga kerja warga Desa Mergolangu secara bergiliran dari tiap-tiap dusun sehingga menambah penghasilan masyarakat desa.

Selama dua tahun terakhir, Desa Wisata Mergolangu sudah dikunjungi sebanyak 20 ribu orang dengan harga karcis masuk sebesar Rp 5 ribu. Desa Mergolangu, sebuah desa yang awalnya tidak pernah dikunjungi wisatawan, kini menjelma menjadi sebuah desa wisata cantik yang semakin bersolek.

Untuk menjadikan suatu objek wisata yang menjadi andalan perekonomian desa semakin memberikan manfaat yang bisa dirasakan oleh warga sekitar, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika mengandalkan swadaya masyarakat, bisa jadi butuh waktu yang cukup lama, sedangkan investor dari luar tidak selalu bisa dapat ditarik dengan mudah.

Dana Desa yang hadir mulai tahun 2015 di Desa Mergolangu menjadi solusi bagi kendala pendanaan. Dengan dana tersebut, Desa Mergolangu berfokus pada pengembangan objek wisata seperti Gunung Lanang dan Waduk Wadas Lintang agar lebih dapat dikembangkan, dan hasilnya baik dalam bentuk keuntungan penjualan karcis masuk maupun laba usaha warung makan atau tukang ojek setempat kembali dapat dinikmati oleh masyarakat.

%d blogger menyukai ini: