Dari 2.336 penduduk, jumlah warga miskin di Desa Melung sebanyak 337 orang. Jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau disabilitas sebanyak 43 orang atau sekitar 14 prosen ABK berasal dari keluarga miskin. Pada 2018, Kepala Desa Melung membentuk Tim Pelayan Pendidikan Inklusif Desa Melung sehingga para kader Posyandu dapat melayani ABK secara rutin.

Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas terletak di dataran tinggi, tepatnya di bagian lereng selatan Gunung Slamet. Pada kasus ABK, ketimpangan dimulai sejak anak dalam kandungan. Saat hamil, orang tua mereka tidak mampu mengunjungi fasilitas kesehatan formal dan/atau tidak mengkonsumsi nutrisi yang memadai. Hal itu mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan yang tidak normal.

Nama Inovasi Posyandu Anak Berkebutuhan Khusus/Disabilitas
Pengelola Tim Relawan Posyandu ABK dan Pemerintah Desa Melung
Alamat Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Kontak Person
  1. Khoerudin (Kepala Desa) – 085726252441)
  2. Timbul Yuliyanto (Sekretaris Desa) – 085647719931
  3. Tri Astuti (Relawan ABK)-085647800930)
Website http://melung.desa.id

Dalam banyak kasus, orang tua dari ABK tidak memiliki saluran air bersih dan toilet sehingga anak tumbuh di lingkungan dengan sanitasi yang buruk sehingga anak sering menderita diare dan pertumbuhan anak makin terhambat.

Kesenjangan semakin dalam ketika masuk anak memasuki usia sekolah. Banyak orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya ke program pendidikan usia dini (PAUD) yang mendukung pertumbuhan kognitif anaknya. Data Desa Melung (2017) menyebutkan ada 1.027 anak yang hanya mampu menempuh pendidikan hingga Sekolah Dasar. Bahkan, cukup banyak warga yang hanya mencicipi bangku sekolah hanya sampai pendidikan dasar (Tidak/Belum Sekolah 455 orang, Belum Tamat SD 374 orang, dan Tidak Tamat SD 21 orang).

Faktor mahalnya kebutuhan sekolah, seperti buku, seragam, dan transportasi mempengaruhi motivasi warga Desa Melung untuk mengakses pendidikan formal. Tak sedikit anak usia remaja terpaksa tinggal di rumah untuk membantu pekerjaan orang tua pada sektor informal. Pekerjaan di sektor informal jelas berpenghasilan yang kecil, tidak pasti, serta perlindungan yang minim.

Belenggu kemiskinan ini telah menjerat warga dari generasi ke generasi. Hidup sangat dekat dengan garis kemiskinan, sangat mudah bagi mereka terperosok ke jurang kemiskinan. Gagal panen, kehilangan pekerjaan atau sakit, bisa menyebabkan warga jatuh miskin.

Desa Melung berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip Desa Inklusi. Desa Melung membuka akses seluas-luasnya bagi para pihak yang ingin melakukan pemberdayaan masyarakat. Sejumlah instansi, lembaga, kelompok, LSM, sudah singgah di Desa Melung. Ada juga lembaga sekolah dan lembaga keagamaan yang telah berkunjung ke Desa Melung, bahkan beberapa kali Desa Melung menjadi lokasi studi banding atau live in oleh sekolah yang berada di Jakarta.

Pada 2018, konsep Desa inklusi terus dimakna secara lebih luas lagi. Dimulai dari diskusi kecil di tingkat RW, selanjutnya hasil diskusi dibawa hingga tingkat Desa. Diskusi itu melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, dan tokoh pendidikan. Hasilnya, semua pihak sepakat untuk menjadikan Desa Melung sebagai Desa Ramah ABK/disalibitas.

Sejumlah pertemuan telah dilakukan oleh para relawan di Desa Melung terkait dengan penangan ABK atau disabilitas. Pada 3 Agustus 2018, Kepala Desa Melung mengeluarkan Surat Keputusan No 141/22/2018 tentang Pembentukan Tim Pelayan Pendidikan inklusif Desa Melung. Sejak itulah setiap seminggu para relawan bertemu dengan anak-anak yang memiliki berkebutuhan khusus, dengan lokasi kegiatan di setiap RW/grumbul.

Setiap bulan, relawan juga menyelenggarakan kegiatan yang mempertemukan orang tua, ABK/Disabilitas, dan Pemerihtah Desa untuk berkoordinasi tentang perkembangan program, sharing informasi, serta penanganan terapi. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dan apresiasi baik dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas dan Yayasan Jamur Dipa Purwokerto.

Solusi

Jumlah ABK dapat ditekan bila orang tua mendapatkan perawatan yang layak sejak masa kehamilan. Saat hamil, orang tua harus mengakses layanan kesehatan secara teratur, termasuk mendapatkan asupan gizi yang baik. Anak juga harus mendapatkan imunisasi lengkap dan asupan gizi yang baik. Tempat tinggal anak harus memiliki saluran air bersih, sanitasi yang layak, dan toilet. Anak juga harus bisa sekolah sampai ke tingkat atas, dan mendapkatkan ketrampilan dan mendapat pekerjaan yang layak ketika dewasa.

Manfaat

Belajar berbagi untuk sesama, kepedulian bersama, serta mendapat hak yang sama. Saat ABK mendapat peluang yang sama, kita berharap mereka akan menjadi generasi yang tangguh, sekaligus mengubah pola hidupnya menjadi lebih baik. Relawan bekerja keras untuk membuka mata hati masyarakat luas tentang rintisan Posyandu ABK/Disabilitas sehingga setelah kegiatan ini berjalan dengan baik. Desa-desa lain dapat mereplikasi inisiatif dan kegiatan yang sama di wilayahnya.

Proses Penyelesaian Masalah

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Desa Melung. Kini ada 4 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang dikelola para kader secara swadaya untuk melayani/memfasilitasi 43 ABK dari beragam usia dan jenis masalahnya.

Kendala

Rintisan Posyandu ABK/Disabilitas (pendidikan inklusif) masih didanai secara swadaya oleh masyarakat, di tiap RW/Grumbul. Pendanaan secara swadaya cukup menjadi kendala penyelenggaraan kegiatan karena sebagaian besar ABK berasal dari keluarga miskin.

%d blogger menyukai ini: