Lenganeng adalah salah satu desa di Tahuna dengan komposisi mata pencaharian yang cukup unik. Lebih dari 80 prosen penduduknya berprofesi sebagai Pandai Besi. Produk kerajinan Lenganeng berupa parang, golok, bara’ (senjata parang khas Sangir), samurai, dan keris.

Popularitas produk unggulan Desa Lenganeng sangat terkenal hingga ke Makasar, Manado, Minahasa, Kalimantan sampai Papua. Nama “Lenganeng” berasal dari suku Sangihe yaitu “Dalenganeng” yang artinya suatu terobosan jalan pintas.

Desa Lenganeng merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Dalam perkembangannya, Dana Desa mendukung Lenganeng tumbuh signifikan. Lenganeng terletak di atas perbukitan dengan ketinggian 20-570 Meter di atas permukaan laut dengan luas 275 ha dan dihuni sebanyak 683 jiwa.

Dengan letak geografis yang cukup strategis, yaitu berada di jalur utama yang menghubungkan ibukota kabupaten dan bandara Naha, kondisi alam Lenganeng yang subur menjadikan desa ini kaya potensi pertanian dan perkebunan.

Sumber pendapatan desa Lenganeng senilai 1,1 miliar rupiah didominasi oleh Dana Desa sebesar 749 juta rupiah dan Alokasi Dana Desa sebesar 355 juta rupiah. Penggunaan Dana Desa di Lenganeng diprioritaskan pada dua bidang, yaitu Penyelenggaraan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Anggaran desa tersebut dipublikasikan kepada masyarakat desa dengan menampilkan baliho besar yang terpampang di depan Kapitalaung 1 Lenganeng sehingga masyarakat dapat mengawasi penggunaannya.

Badan Pembinaan Masyarakat Desa Kabupaten Kepulauan Sangihe merekomendasikan Lenganeng menjadi salah satu desa yang dinilai berhasil memanfaaatkan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Alokasi Dana Desa diproritaskan untuk pembangunan fisik dan pemberdayaan masyarakat.

Wujud penggunaan dana desa yang mulai menampakkan hasilnya, di antaranya Pembangunan dan Rehab Jalan Setapak di Lindongan atau Dusun I,II, dan III. Sampai dengan tahun 2016, jalan setapak di Lenganeng hanya sepanjang 730 meter. Jalan ini dipandang sangat tidak memadai karena kemiringan kontur desa yang terjal, jalan ini sering licin dan sangat menghambat kegiatan warga.

Di Tahun 2017, dengan dukungan Dana Desa jalan yang sudah ada direhabiltasi dan dibangun kembali mencapai panjang keseluruhan 3 kilometer. Kini, aktivitas warga melalui jalan itu sudah lebih lancar.

Dana Desa juga digunakan untuk meningkatkan sarana sanitasi warga. Dengan penyediaan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) kepada 194 KK, kesehatan lingkungan Lenganeng semakin baik. Selain itu, Bantuan sosial diberikan untuk usaha jasa potong rambut berupa bangunan tempat usaha dan peralatan potong rambut.

Sebelum tahun 2017, tidak ada satupun warga yang mempunyai usaha tersebut, sehingga untuk memotong rambut harus pergi ke desa lain atau ke kota Tahuna dengan menempuh jarak dan memakan waktu. Sejak dialokasikan Dana Desa, jasa potong rambut kini tersedia di Lenganeng.

Terakhir, dana desa digunakan untuk membina dan meningkatkan kapasitas usaha Pandai Besi. Sejak lama Lenganeng terkenal sebagai penghasil kerajinan berbahan dasar besi. Sebelum menerima Dana Desa, Lenganeng sempat mengalami kelangkaan bahan baku arang tempurung kelapa dan mengakibatkan para pengrajin beralih profesi dan bekerja keluar daerah.

Kini, BUMDes Lenganeng sudah terbentuk dan bergerak berkoordinasi dengan desa lain penghasil arang di Desa Raku, Beha, dan Kalasube agar ketersediaan bahan baku tetap terjaga.

Dari kisah tersebut, dampak Dana Desa sangat signifikan untuk perkembangan dan pertumbuhan sosial dan ekonomi desa Lenganeng. Pembangunan dan rehab jalan setapak memperlancar aktivitas warga untuk bekerja dan beraktivitas, sarana sanitasi yang memadai membaik menjadikan tingkat kesehatan warga meningkat, BUMDes mendorong usaha tumbuh pesat sehingga kesejahteraan warga meningkat dan menekan angka kemiskinan.

%d blogger menyukai ini: