Nama Kampung Walal berasal dari bahasa Moi yang artinya “terdiri dari sungai-sungai”. Diresmikan pada tahun 1985, kampung ini merupakan kampung eks transmigrasi yang mayoritas penduduknya berasal dari Jawa Timur (Ngawi), Papua (Moi), dan sisanya adalah campuran.

Menilik mayoritas penduduk merupakan imigran Jawa, maka tidak aneh rasanya bila salah satu misinya adalah mewujudkan Kampung Walal sebagai swasembada pangan, “Gemah Ripah Loh Jinawi”, yaitu masyarakat yang hidup rukun, sejahtera, lahir dan batin. Hasil terbesar kampung ini berasal dari sektor pertanian dan peternakan.

Secara administratif, Kampung Walal yang terdiri atas 2 RW dan 7 RT ini termasuk dalam wilayah Distrik Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Kampung Walal terletak di sebelah Utara Distrik Mayamuk, sebelah Selatan Distrik Moi Segen, dan sebelah Timur Distrik Klamono.

Kampung Walal tergolong daerah pedalaman, dengan kondisi jalan penghubung antar kampung yang belum memadai. Hal tersebut menghambat akses penduduk pada saat musim hujan di mana kondisi jalan sulit dilalui kendaraan roda dua apalagi roda empat. Dilihat dari topografinya, wilayah seluas ± 5,30 km2 ini merupakan dataran rendah dengan ketinggian 7–12 m dari permukaan laut yang juga rawan banjir setiap tahunnya.

Untuk Tahun 2017, pendapatan desa mencapai Rp 1,20 Milyar dengan porsi Dana Desa mencapai Rp 769 Juta (64%). Sejalan dengan besarnya porsi ini, diharapkan agar Dana Desa dapat menjadi penyokong akselerasi pembangunan desa. Transparansi keuangan Kampung Walal telah ditunjukkan dengan memasang spanduk besar di pusat perkampungan yang memuat rincian anggaran APBDes.

Keadaan Kampung walal yang stagnan dan begitu begitu saja mulai berubah sejak diluncurkannya program Dana Desa pada tahun 2015. Kampung Walal diibaratkan mendapat suntikan motivasi untuk memperbaiki kehidupan perekonomian kampung.

Adanya Dana Desa menjadikan warga Kampung Walal menjadi lebih bersemangat dan antusias memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada di kampungnya. Bersama-sama mereka berswadaya memperbaiki sarana prasarana dan meningkatkan potensi yang ada di kampungnya.

Sesuai dengan kebutuhan desa dalam penanggulangan banjir dan peningkatan akses desa, maka Dana Desa digunakan dalam pembangunan infrastruktur terutama dalam pembangunan gorong-gorong dan pembangunan jembatan.

Sebelum adanya Dana Desa, Kampung Walal seperti tidak ada bedanya dengan kampung- kampung lain di Kabupaten Sorong, bahkan dapat dikatakan lebih parah. Belum diaspalnya jalan mempersulit transportasi pada saat musim hujan di mana setiap kali hujan, kampung akan banjir.

Dengan Dana Desa, warga Kampung Walal membangun gorong-gorong yang berfungsi mengalirkan genangan air ke tempat yang lebih rendah.

Dengan adanya gorong-gorong itu, diharapkan genangan-genangan air yang sebelumnya tidak kunjung surut bisa segera surut dan air yang mengalir di gorong-gorong bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi sawah dan pembuatan kolam ikan.

Di tahun 2017 ini saja, Kampung Walal sudah dapat memanen hasil kolamnya dengan hasil yang sangat memuaskan sehingga dapat menambah pemasukan bagi warganya.

Selain gorong-gorong, jembatan juga telah dibangun untuk memudahkan akses transportasi Kampung Walal. Setelah adanya jembatan tersebut, keadaan menjadi jauh lebih baik karena warga menjadi sangat terbantu dalam mengangkut hasil panen dan memudahkan transportasinya.

Warga dapat mengangkut sendiri hasil panen mereka dengan kendaraan motor mereka dan mengurangi biaya yang sebelumnya harus dikeluarkan untuk sekedar mengangkutnya.

Atas kerja keras warga beserta seluruh perangkat desa dan pihak-pihak lain yang terlibat, Kampung Walal menerima penghargaan demi penghargaan, salah satunya adalah dinobatkannya Kampung Walal dalam 15 Desa/Kampung terbaik di seluruh Indonesia oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal tahun 2017 dan diliput dalam acara “Pesona Desa” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV Nasional.

Kesuksesan Kampung Walal mengelola Dana Desa adalah hasil kerja keras segenap warga beserta perangkat kampung Walal dan pihak terlibat lainnya. Semangat dan antusias seluruh pihak ditunjukkan dengan pemberdayaan sumber daya manusia dan sumber daya alam serta bersama berswadaya membangun gorong-gorong dan jembatan.

%d blogger menyukai ini: