Bersamaan senja yang menguncup, sesaat itulah desa itu hening. Gulita yang mengalahkan keindahan akik lokal yang mendunia bernama Bungur tanjung bintang. Kini, gulita lelap di peraduan. Diiringi deru mesin dan aroma asap solar membunuh malam. Sambil sesekali terdengar celotehan petani. Mengirim hasil bumi ke kota penuh harapan.

Desa itu bernama Jatibaru. Jika tidak mengenalnya, maka ingatlah akik ungu yang menyejukkan asli dari Lampung. Ya, Bungur Tanjung Bintang. Batu berjenis amethys ini memang sangat terkenal dikalangan pencinta batu. Bahkan harganya hingga kini tetap bertahan tinggi di tengah porak porandanya harga batu akik lainnya.

Jatibaru memang desa yang menghasilkan bungur lampung terbaik. Para pemburu batu lumrah hilir mudik ke desa ini. Namun karena akses desa yang belum baik, banyak keluhan yang diterima kaum pendatang saat tiba di Jatibaru.

Seiring digulirkannya dana desa, aparat desa beserta seluruh masyarakat bermufakat menetapkan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, khususnya bidang infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam bidang infrastruktur, fokus pembangunan dilakukan untuk perbaikan jalan desa, gorong-gorong, dan talud. Hal ini dilakukan agar akses transportasi desa semakin lancar yang secara otomatis akan meningkatkan perekonomian warga yang mayoritas sebagai petani.

Dengan menggunakan prinsip padat karya, maka perputaran dana desa dominan di internal desa yang akan semakin menggeliatkan perekonomian desa.

Terhadap warga yang belum memiliki pekerjaan, Dana Desa dialokasikan untuk peningkatan keterampilan warga. Bahkan untuk membentengi warganya dari bahaya narkoba, turut diselenggarakan sosialisasi bahaya narkoba dengan melibatkan unsur Muspida.

Desa Jatibaru merupakan ibukota Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan. Hanya berjarak 30 Km dari ibukota provinsi, desa ’akik’ ini berada ditepi laut dengan ketinggian tanah 30 mdpl (dataran tinggi).

Luasnya yang mencakup 966,84 ha, desa ini terbagi dalam 12 dusun, yaitu Tanjung Bintang Tugu, Tanjung Bintang Pusat, Tanjung Bintang Pasar, Totoharjo I, Tanjungsari, Tanjungbaru, Sidodadi, Kalirejo, Kaliayu, Waluyorejo, TanjungHarapan, dan Totoharjo II.

Tahun 2017 alokasi APBDes Desa Jatibaru sebesar 1,36 Miliar. Permasalahan utama berupa akses desa menjadi porsi terbesar alokasi Dana Desa. Hal ini bertujuan agar desa Jatibaru tidak lagi sunyi selepas senja. Aktivitas yang terhenti selepas adzan magrib membahana, telah menjadi kenangan seiring akses desa yang semakin baik. Kini, dini hari pun terdengar deru mesin mengangkut hasil pertanian. Agar pagi sekali segar tiba di perkotaan.

Dengan adanya dana desa ini diharapkan desa Jatibaru akan semakin maju baik dari sisi pembangunan fisik baik infrastruktur jalan, maupun gedung perangkat desa. Agar desa Jatibaru tetap hidup saat malam menjelang.

Desa Jatibaru, dengan berbagai alternatif pilihannya mampu mendapatkan manfaat optimal dari Dana Desa. Untuk petani, pembangunan akses transportasi tentunya dapat membantu mobilitas hasil pertaniannya.

Sementara, untuk menunjang masyarakat yang belum mendapat pekerjaan dibuat pelatihan keterampilan. Sebuah contoh tentang bagaimana membuat pilihan-pilihan untuk semua pihak yang membutuhkan. Keduanya merupakan pilihan tepat dalam peningkatan perekonomian masyarakat.

Pilihan yang bijaksana.

%d blogger menyukai ini: