Mengering saat kemarau, tenggelam saat hujan. Itulah kondisi jembatan non-permanen yang didirikan warga seadanya. Jembatan tersebut, bukan hanya sebagai sarana masyarakat melakukan mobilitas kesehariannya, tapi juga menjadi kunci kelancaran pengiriman hasil bumi warga setempat.

Kisah itu sebentar lagi akan menjadi kenangan. Desa Gunung Makmur akan memiliki jembatan permanen. Seiring dana desa yang disalurkan, seluruh elemen desa mengusung satu program utama yakni pembangunan jembatan desa secara permanen.

Jembatan yang ada selama ini hanya mampu dilewati gerobak pengangkut. Selain membutuhkan ekstra effort, tentu para petani juga mengeluarkan extra cost untuk proses pengangkutan ini.

Parahnya, petani di Desa Gunung Makmur seperti menjadi sapi perahan para tengkulak. Dengan akses transportasi yang mahal dan modal pengelolaan pertanian yang sedikit, menjadi makanan empuk para tengkulak untuk menjerat para petani lokal. Sehingga, para petani akan sulit sejahtera karena produk yang mereka hasilkan dihargai rendah oleh para tengkulak.

Dengan didirikannya jembatan permanen berbahan beton, maka para petani semakin memiliki kemudahan akses untuk mengangkut hasil buminya menggunakan kendaraan pengangkut seperti mobil atau motor. Hal ini tentu akan memotong biaya operasional yang selama ini dikeluarkan. Hal ini disyukuri oleh warga desa, bahkan dilaksanakan riungan’ atau doa bersama atas pembangunan jembatan tersebut.

Hal tersebut menunjukkan bahwa warga Desa Gunung Makmur memang sangat mengharapkan jembatan penghubung itu berdiri secara kokoh sehingga memudahkan aktivitas mereka.

Lebih lanjut, untuk menjaga para petani dari para tengkulak, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Jaya yang didirikan Desa Gunung Makmur, memainkan peran dengan membuka penyewaan alat-alat pertanian yang canggih. Sehingga, petani-petani lokal tidak lagi terjebak untuk meminjam pada tengkulak yang mengenakan harga tinggi.

Inilah simbiosis mutualisme antara petani dan BUMDes yakni petani yang memiliki keterbatasan modal dapat menyewa dengan harga yang terjangkau di BUMDes dan terhindar dari tengkulak.

Sedangkan BUMDes mendapatkan pendapatan dari penyewaan alat tersebut. Inilah sinergi menyelamatkan petani dari jebakan tengkulak.

Pada tahun 2017, APBDes Gunung Makmur dialokasikan sebesar Rp 2,06 miliar yang terdiri atas terdiri atas Dana Desa sebesar Rp899 juta dan Alokasi Dana Desa sebesar Rp 1,16 miliar.

Program penyaluran Dana Desa yang dilakukan oleh pemerintah, sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat desa. Jalan, jembatan, talud, dan fasilitas umum yang selama ini rusak maupun belum tersedia, dapat diperbaiki bahkan dibangun secara kokoh.

Dampaknya, kenyamanan masyarakat dalam menjalani kehidupan sosial maupun mengembangkan ekonomi keluarganya.

Desa Gunung Makmur merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara. Desa seluas 246 KM2 tersebut terdiri dari empat dusun, yaitu Dusun Giriharja, Dusun Sidomulyo, Dusun Sukamaju, dan Dusun Bangunjaya.

Dengan jumlah Penduduk sebanyak 1.980 jiwa yang terbagi dalam 16 Rukun Tetangga (RT), penyaluran dana
desa pada daerah ini memiliki dampak signifikan mengubah kehidupan warganya kearah yang lebih baik.

Dari Desa Gunung Makmur kita belajar bagaimana pilihan atas sebuah jembatan dan pendirian BUMDes memberikan manfaat yang tidak bisa terukur dari sekedar angka nominal.

Kecerdikan aparat desa membangun BUMDes yang menyewakan alat-alat pertanian dengan harga terjangkau dan fleksibilitas pembayaran, seperti “malaikat” yang menyelamatkan para petani dari jeratan para tengkulak. Bahkan, para petani mampu bangkit memperbaiki kualitas hidupnya.

Terima kasih Dana Desa!

%d blogger menyukai ini: