Berjarak 179 km dari Kota Semarang dan 7 km dari Kota Kebumen, Desa Bojongsari dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama 4 jam. Dengan luas wilayah 330 ha, desa ini berada di ketinggian 20-120 meter dari permukaan laut. Topografi desa ini sebagian besar merupakan dataran rendah yang diselingi perbukitan.

Penduduk desa Bojongsari berjumlah 5.709 jiwa. Desa ini termasuk dalam klasifikasi Desa Swasembada, dengan potensi industri kecil seperti pembuatan tas, peci, topi, bendera, dan tempe.

egenda yang melibatkan Desa Bojongsari antara lain dapat ditemukan dalam “Babad Sruni”. Meskipun tidak ada penyebutan nama desa secara jelas, tetapi babad tersebut menceritakan kisah hidup seorang tokoh yang menjabat sebagai Wedana Bupati Kebumen, yang akhirnya dimakamkan di Desa Bojongsari pada akhir hayatnya.

Sumber Dana Desa untuk Desa Bojongsari sebesar Rp 853 Juta, dan dilengkapi dengan Alokasi Dana desa (APBD) Rp 358 Juta. Dengan Dana Desa yang tersedia, Desa Bojongsari berhasil melakukan pembenahan infrastruktur, di antaranya pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1 km, pembuatan jamban bagi 31 keluarga yang kurang mampu, pembuatan jalan setapak yang menyusuri perkampungan, dan pembangunan saluran air/drainase.

Wilayah barat dan selatan Desa Bojongsari dahulu merupakan daerah yang rawan banjir. Semenjak dilakukan perbaikan saluran air, peluang terjadinya banjir menjadi rendah. Ini membuktikan keberhasilan dalam pembangunan desa Bojongsari melalui Dana Desa.

Kisah sukses dalam penggunaan Dana Desa di Desa Bojongsari tidak lepas dari usaha segenap perangkat desa. Tim perangkat desa berusaha mengelola keuangan dengan transparan dan akuntabel. Semua pengadaan material mengikuti standar di dalam Peraturan Bupati No.52 Tahun 2014.

Pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara swakelola, sedangkan tenaga kerja berasal dari penduduk Desa Bojongsari sendiri.

Salah satu indikator lain yang menjadi ukuran keberhasilan pembangunan di desa ini adalah menurunnya jumlah rumah tangga miskin. Pada data tahun 2016 tercatat ada 202 rumah tangga miskin, sedangkan tahun 2017 jumlahnya berkurang menjadi 170 rumah tangga.

Keamanan lingkungan desa menjadi salah satu faktor penunjang keberhasilan pembangunan secara umum dan pelaksanaan Dana Desa secara khusus.

Kesuksesan dalam pemberantasan kemiskinan merupakan salah satu harapan utama dengan digulirkannya Dana Desa. Pada poin ini, penggunaan Dana Desa diwujudkan dengan keikutsertaan seluruh masyarakat dalam memperjuangkan penurunan jumlah rumah tangga miskin di Desa Bojongsari.

Adapun sistem swakelola yang dipakai dalam pembangunan infrastruktur mendukung penguatan mental agar semua masyarakat ikut merasa memiliki dan merawat hasil pembangunan yang sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya.

%d blogger menyukai ini: