Dana Desa telah berhasil dan berdampak positif untuk memulihkan kondisi warga pasca trauma dengan mengembalikan stabilitas desa hasil dari pelaksanaan pembangunan, pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

Desa Bega terletak 13 km ke arah timur dari pusat pemerintahan Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Lokasi tepatnya adalah di wilayah Kecamatan Poso Pesisir yang masih berada dalam kisaran kaki Gunung Biru, gunung yang sering diberitakan dalam kapasitasnya sebagai kawasan operasi militer TNI Polri atau dikenal dengan Operasi Tinombala yang masih berlangsung sampai dengan saat ini.

Dahulu Desa Bega terletak di pinggiran pantai Teluk Tomini yang jika datang musim hujan sering terkena banjir dari genangan rob air laut yang naik ke daratan. Pada tahun 1983, atas prakarsa Pemerintah Kabupaten Poso berkolaborasi dengan prajurit yang dikirim dalam rangka Program ABRI Masuk Desa, dibukalah lahan baru untuk Desa Bega di lokasi yang lebih strategis dan aman dari banjir.

Aparat pemerintah desa masih dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan untuk mengangkat perekonomian masyarakat setempat. Saat ini tercatat masih ada 117 warga miskin dari total 923 warga. Pemanfaatan APBDesa yang bersumber dari Dana Desa, Alokasi Dana Desa, maupun sumber lainnya diharapkan dapat menggerakkan roda perokonomian, membuka lapangan kerja, dan menyejahterakan masyarakat.

Desa Bega dalam perjalanannya pernah menghadapi kenyataan cukup pahit, dampak tragedi masa lalu di Poso. Perlahan tapi pasti, masyarakat terus bergerak maju meninggalkan kenangan kelam di belakang.

Dana Desa berdampak positif untuk memulihkan kondisi warga pascatrauma dengan mengembalikan stabilitas desa, misalnya melalui pelaksanaan pembangunan, pengembangan, dan pemberdayaan masyarakat. Hasilnya, keamanan pun meningkat, sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas nasional.

Dana Desa yang didapatkan oleh Desa Bega diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur, pelayanan sosial dasar, dan peningkatan kapasitas ekonomi desa. Di bidang fisik, dana desa telah dipergunakan untuk pembangunan jalan, pembuatan drainase untuk pembuangan air, dan pemasangan talud jalan.

Di bidang pelayanan sosial telah didirikan gedung PAUD, Taman Kanak-Kanak, dan balai pertemuan yang bisa dimanfaatkan oleh warga desa. Di bidang prasarana olahraga telah dibuat lapangan voli, juga perbaikan lapangan sepak bola, lapangan sepak takraw, dan bulutangkis.

Sarana dan prasarana kesehatan tidak luput dari penggunaan dana desa. Kegiatan posyandu dan penyuluhan kesehatan merupakan contoh aktivitas di Desa Bega yang dibiayai oleh Dana Desa.

Mengingat salah satu tujuan pemberian Dana Desa adalah untuk menstimulasi kemandirian desa, dalam rangka peningkatan ekonomi Desa Bega telah dibuat lapangan berlantai beton. Lapangan ini digunakan sebagai tempat pengeringan gabah hasil panen warga. Sebelumnya, warga biasanya memakai terpal untuk alas penjemuran padi yang baru dipanen.

Saat ini juga sedang dirintis BUMDesa yang baru berkembang dan masih dalam tahap diversifikasi pengembangan usaha. Sebagai bentuk transparansi anggaran, di depan balai Desa Bega telah dipasang baliho APBDesa agar masyarakat bisa memantau dan ikut mengawasi penggunaan Dana Desa.

Ada desa yang bergerak maju dengan modal kekayaan alam yang melimpah, ada juga yang harus bergulat terlebih dahulu dengan trauma masa lalu seperti Desa Bega. Maka bantuan dari pemerintah tingkat di atasnya yang terwujud dalam bentuk Dana Desa amatlah diapresiasi.

Pada Desa Bega, penggunaan Dana Desa yang berfokus pada infrastruktur menjadi dukungan dan jawaban utama untuk menstimulasi kemandirian desa.

Hal ini mengingat padi merupakan salah satu hasil pertanian utama warga, sehingga infrastrukutur lapangan berlantai beton sangat mempermudah warga menjemur gabah hasil panen. Kebangkitan perekonomian masyarakat setempat pun dapat dipercepat untuk menyongsong hari depan yang lebih cerah.

%d blogger menyukai ini: