Pada larantuka
Diapit Solor-Adonara
Pulau indah hadiah surga
Tak kalah kisah dengan danau asmara
Atau hangat uap dari Bantala
Sesungguhnya
Itu hanya bisik Tuhan ke anak gembala
Agar tetap memuja Dia yang Esa

Nagi, sebutan lain Larantuka, di sana terdapat sebuah desa penuh pesona. Bantala biasa mereka menyebutnya. Dilekuk desanya, ada mata air surga yang masih perawan. Tempat pemuda mereguk kesegaran. Hapus kepenatan seharian Desa Bantala adalah desa tua di kaki Gunung Ile Mandiri, Flores Timur.

Hanya berjarak 12 km dari pusat kota Larantuka. Masuk dalam Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Desa Bantala terbagi dalam 6 dusun, yaitu Dusun Dona Tobo, Dusun Sidirion, Dusun Kidi Belo Bata, Dusun Dua Duli, Dusun Lite Lolon Bala dan Dusun Wai Tiu.

Desa Bantala memiliki jumlah penduduk 1.469 jiwa. Sebagian besar dalam usia produktif yakni kisaran umur 15-60 tahun. Namun, pendidikan masih memprihatinkan. Mayoritas penduduknya hanya mengenyam kursi SD bahkan tidak sekolah. Angkanya mencapai 77%, sisanya variatif sesuai kesungguhan berjuang.

Dengan kondisi pendidikan yang demikian, Desa Bantala sebagian besar berprofesi sebagai petani. Adapun komoditas utama berupa kelapa, biji mete, dan sayuran.

Tahun 2017, Desa Bantala mendapat kucuran Dana Desa sebesar 1,12 Miliar. Anggaran tersebut terdiri atas Dana Desa 756 juta, Bagi Hasil Pajak 7,52 juta, Alokasi Dana Desa 315 juta dan Pendapata Asli Desa sebesar 41,5 juta.

Adapun salah satu aspek yang menjadi prioritas pembangunan di Desa Bantala yakni terkait akses transportasi. Hal tersebut urgen karena mayoritas penduduk yang berprofesi sebagai petani, memerlukan akses transportasi yang baik dalam membawa hasil taninya keluar desa.

Sedangkan kondisi saat ini, jalan di pelosok Desa Bantala masih berupa tanah dan tumpukan batu yang sulit dilalui kendaraan. Hal ini tentu menyebabkan para petani mengangkat sendiri hasil taninya menuju pasar terdekat. Hal ini tentu menjadi kesulitan tersendiri bagi warga Desa Bantala.

Sampai akhir tahun 2016, baru sekitar 4 KM jalan yang dilakukan semenisasi dan pembetonan dari total jalan desa sepanjang 13 KM. Seluruh pembangunan jalan desa tersebut, didanai dari Dana Desa setiap tahunnya. Meskipun demikian, kondisi tersebut masih sangat jauh dari kebutuhan warga desa untuk mendapatkan akses transportasi yang baik.

Untuk mempercepat pembetonan seluruh jalan desa, maka kembali pada tahun 2017 prioritas anggaran digunakan untuk melanjutkan pembetonan jalan desa.

Bahkan pembangunan jalan di Desa Bantala, dibantu swadaya oleh masyarakat desa. Ada yang mengumpulkan kerikil sungai, mengais pasir kali hingga batu untuk pengerasan, dikumpulkan masyarakat desa di halaman rumah masing-masing. Hal ini menunjukkan budaya Gemohing yakni kebersamaan memikul beban atau lazim dikenal gotong royong.

Prinsip adat gemohing tetap lestari hingga kini. Termasuk dalam realisasi dana desa di Bantala. Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya kearifan lokal dapat menjadi pendukung kesuksesan pembangunan di berbagai daerah di Indonesia.

Keikutsertaan masyarakat dalam menyukseskan pembangunan, menjadi salah satu pendorong utama peningkatan kualitas hidup warga setempat. Bayangkan saja jika masyarakat tidak mendukung program yang dilaksanakan pemerintah, mustahil akan bisa berjalan.

Keramahan warga Bantala, membius warga ibukota. Sambutan Kepala Desa, tokoh adat/ masyarakat, dan warga Desa Bantala, membuat tetamu berdecak bangga. Inilah cermin Indonesia. Bahasa beda, kulit pun berwarna. Tapi keramahan menjadi karakter anak negeri.

Inilah sekelumit kisah penjaga perbatasan negara, Timur Nusa Tenggara. Menilik Desa Bantala, terlihat bahwa peran serta masyarakat merupakan kunci sukses pengelolaan Dana Desa.

Masyarakat desa yang membantu pembangunan jalan dengan swadaya membuktikan bahwa sinergi masyarakat dan aparat desa adalah hal utama.

%d blogger menyukai ini: