“Masyarakat merasa sangat terbantu dan dengan adanya program Dana Desa yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.” Mobil yang kami tumpangi melambatkan lajunya menjelang 40 km dari Kota Saumlaki. Dedaunan nampak basah berbalur air hujan yang telah mereda.

Mentari yang sedari tadi malu-malu, nampak mulai melemparkan sinarnya dibalik bongkahan cumolonimbus abu-abu. Sisa-sisa tetes air hujan sedikit menghalangi pandangan mata dari balik kaca mobil. Namun perlahan nampaklah lahan persawahan dan perkebunan yang mengapit sisi kanan dan kiri jalan desa ini.

Sesekali kami lihat juga beberapa petani yang sedang memeriksa kebunnya yang ditanami kol, jagung, dan kacang hijau. Ya, kami telah sampai di Amdasa, salah satu desa di Kecamatan Wer Tamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

Curah hujan di desa dengan klimatologi antara 27—31 derajat celcius ini memang cukup tinggi. Hal ini mendukung aktivitas perkebunan masyarakat, di wilayah desa yang
mempunyai luas perkebunan hingga 2.150 ha ini. Pada musim hujan seperti sekarang, mata pencaharian utama masyarakatnya adalah bertani. Namun jika musim kemarau tiba,
perkebunan tadi akan menjadi sepi karena mayoritasnya beralih profesi sebagai nelayan.

“Ketika musim hujan, mata pencaharian utama masyarakat adalah petani sedangkan ketika musim kemarau mereka beralih profesi sebagai nelayan”

Desa ini tidak begitu ramai. Dengan luas lahan permukiman 123.420 meter persegi warga yang tinggal di sini hanya sebanyak 743 jiwa dari 210 Kepala keluarga (KK). Berdasarkan informasi yang kami dapat, penduduk berjenis kelamin pria sebanyak 360 jiwa dan berjenis kelamin wanita sebanyak 383 jiwa, penduduk berusia 0 s.d 5 tahun sebanyak 256 jiwa,15 s.d 65 tahun sebanyak 379 jiwa, dan 65 tahun ke atas berjumlah 108 jiwa.

Perlahan mobil kami menuju Kantor Kepala Desa tempat di mana hari ini kami akan menemui Kepala Desa untuk berbagi cerita tentang Dana Desa. Begitu kami turun, angin
berhembus menerpa wajah dan menyadarkan kami bahwa sisi sebelah timur desa ini adalah pantai karena memang posisi desa ini berada pesisir timur Pulau Yamdena di kepulauan Tanimbar dan berbatasan langsung dengan hutan Yamdena pada bagian barat desa.

Kami dipersilakan masuk ke ruangan dalam kantor kepala desa Amdasa. Kepala Desa menyatakan bahwa APBDes Amdasa hanya bersumber dari Dana Desa saja yang angkanya
sejumlah 810,884 juta rupiah. Dana itu kemudain digunakan untuk membiayai tiga (3) pokok kegiatan desa yakni pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan
masyarakat dengan total pengeluaran sebesar 909,205 juta rupiah. Artinya ada defisit sebesar 98,321 juta rupiah untuk membiayai seluruh pokok program tersebut.

Namun demikian, beliau menyampaikan bahwa keberhasilan dalam pengelolaan
Dana Desa dapat dilihat dari pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana desa. Atas
pengelolaan belanja Dana Desa tersebut, dihasilkan pembangunan pemeliharaan sarana dan
prasarana air bersih dalam bentuk bak penampungan air bersih, sarana MCK penduduk miskin,
pembangunan jalan desa, pembangunan perumahan masyarakat miskin, sarana dan prasarana
kantor desa.

Tidak hanya pembangunan infrastruktur, Dana Desa juga digunakan untuk membiayai
kelembagaan pemuda karang taruna, kegiatan PKK, kelompok tenun ikat, kelompok ukiran
kayu, pembuatan tembikar dengan anyaman bambu, bantuan alat tangkap ikan, bantuan
pembuatan perahu, penyediaan bibit ternak, penyediaan bibit tanaman kebun, prasarana
kesehatan, prasarana pendidikan, prasarana ibadah, dan prasarana umum. Tak terasa obrolan
kami pun berakhir dan kami beranjak untuk berpamitan dengan jajaran pengurus desa
Amdasa.

Di jalan kami menemui seorang ibu yang bernama S. Angwarmase, salah seorang warga
Desa Amdasa. Mengetahui bahwa kami adalah tim dari KPPN Saumlaki yang sedang meninjau
pelaksanaan Dana Desa, beliau menyampaikan ucapan terima kasih atas adanya Dana Desa
tersebut. Beliau menyampaikan bahwa sebelumnya masyarakat merasa sangat terbantu
dan dengan adanya program Dana Desa yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Masalah kekurangan air bersih pada saat musim kemarau, saat ini sudah terbantu karena sudah
dibangun bak penampungan air yang didanai oleh Dana Desa. Selain kebutuhan air bersih, ada
juga perbaikan atap rumah dari rumbi (daun tanaman sagu) menjadi seng atau asbes, adanya
bantuan bibit tanaman sawi, kol, jagung dan kacang-kacangan untuk bertani, juga pembuatan
jalan setapak, dan kedepannya pembuatan parit jalan desa semoga dapat didukung dengan
Dana Desa.

Obrolan itu pun selesai juga dan setelah sekali lagi berpamitan kami pun menuju mobil
untuk kembali ke Saumlaki. Mobil perlahan merayap meninggalkan desa Amsada. Tersimpan
rasa haru mendengarkan dan menyaksikan secara langsung bahwa hasil dari kerja keras
penyaluran Dana Desa ini telah begitu diterima di dan membantu masyarakat desa ini. Tebersit
doa agar perkembangan desa di seluruh Indonesia dapat lebih maju lagi sebagai wujud
pembangunan Indonesia dari pinggiran yang sejalan dengan salah satu program Nawacita
yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia.

Obrolan itu pun selesai juga dan setelah sekali lagi berpamitan kami pun menuju mobil
untuk kembali ke Saumlaki. Mobil perlahan merayap meninggalkan desa Amsada. Catatan
penting yang kami dapat hari itu, kesuksesan pemanfaatan Dana Desa di desa Amdasa ini
adalah dengan dilaksanakannya program-program yang langsung menjadi akar masalah di
masyarakat, yakni ketersediaan air bersih dan ketersediaan bantuan bibit tanaman untuk
ladang-ladang warga. Tersimpan rasa haru mendengarkan dan menyaksikan secara langsung
bahwa hasil dari kerja keras penyaluran Dana Desa ini telah begitu diterima di dan membantu
masyarakat desa ini. Terbersit doa agar perkembangan desa di seluruh Indonesia dapat lebih
maju lagi sebagai wujud pembangunan Indonesia dari pinggiran yang sejalan dengan salah
satu program Nawacita yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia.

%d blogger menyukai ini: