Matahari siang dengan pancaran kilau teriknya mengiringi perjalanan penulis menyusuri pesisir pantai Majene. Kami menuju arah Kecamatan Pamboang yang berada di sebelah utara Kota Majene. Setelah kurang lebih menempuh perjalanan sejauh 20 km, kendaraan berbelok ke arah perkampungan yang cukup padat hingga menemukan lokasi keberadaan kantor desa Adolang Dhua yang menjadi target success story pengelolaan Dana Desa di wilayah pembayaran KPPN Majene.

Desa Adolang Dhua memiliki empat dusun yakni Dusun Pesapoang Barat, Dusun Siiyang, Dusun Panawar, Dusun Mongeare, dengan jumlah penduduk sebanyak 1.038 jiwa yang terdiri dari 505 perempuan dan 533 laki-laki.

Pendapatan asli Desa Adolang pada tahun 2017 bersumber dari Dana Desa sebesar Rp807,4 juta Bagi Hasil Pajak dan Retribusi sebesar Rp21,6 juta dan Alokasi Dana Desa Kabupaten sebesar Rp1,016 milyar.

Menurut Sekretaris Desa penggunaan Dana Desa Tahun 2017 tahap I 60% atau Rp484,4 juta,- (total Dana Desa sebesar Rp807,4 juta,-) telah 100% terserap dalam dua bidang prioritas sesuai Permendes Nomor 4 Tahun 2017 yaitu Bidang Penyelenggaraan Pembangunan dan Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Sepanjang perjalanan menuju kantor Kepala Desa Adolang Dhua, terasa sekali sentuhan penataan pemukiman warga yang terarah dan terkoordinasi. Rumah-rumah warga di halaman depan terpagari dengan bahan kayu atau bambu dengan pewarnaan cat yang serasi. Halaman rumah para warga pada umumnya dimanfaatkan untuk tanaman produktif baik sayur maupun tanaman buah.

Selokan air terbangun rapi dan memadai untuk menampung aliran sisa mandi cuci warga dan juga sebagai antisipasi limpahan air hujan yang intensitasnya tidak terlalu tinggi di wilayah ini. Pembuatan saluran air atau drainase ini merupakan bagian dari pemanfaatan Dana Desa yang dinikmati warga.

Sejurus mendekat kantor desa, kami melewati dua jembatan yang masih nampak baru dengan warna cat biru khas perbendaharaan dipadu kuning gading yang cukup mencolok dan menarik perhatian kala melewatinya. Rupanya dua jembatan tersebut merupakan bangunan lama yang direhabilitasi dengan Dana Desa Tahun 2017 ini sehingga mempercantik landscape pusat Desa Adolang Dhua.

Tidak sekedar pemanis dan pelengkap lingkungan semata, namun jembatan-jembatan ini berdiri kokoh di atas jalur air yang membentuk anak sungai yang menuju sungai induk yang mengular.

Perbukitan Desa Adolang yang relatif jarang disapa kucuran hujan membentuk gugusan padang savana dan semak perdu yang sedikit menyimpan cadangan air. Pada beberapa tempat strategis yang jauh dari sumber air alam di lahan-lahan warga dibuatkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan warga akan air bersih. Pembangunan sumur bor difasilitasi dari Dana Desa sebagai perwujudan sarana fisik yang menyentuh langsung kebutuhan pokok.

Penggunaan dana desa untuk bidang fisik terdiri dari: Pembangunan Drainase di Dusun Siiyang, drainase anak sungai di Dusun Panawar, drainase di Dusun Mongeare, drainase di Dusun Panawar, Perintisan jalan tani di Dusun Pesapoang Barat, pembangunan bak air di Dusun Siiyang, rehab jembatan kayu ulin di Dusun Pesapoang Barat, pembangunan rabat beton dan talud di Dusun Siiyang, rehab jembatan kayu ulin di Dusun Siiyang terlewati.

Sedangkan bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa diarahkan pada kegiatan non fisik di antaranya: Insentif Guru TK/PAUD, Pelatihan Menjahit, Pengadaan Bibit Cabe Rawit, dan Pengadaan Bibit Sayur.

Kesuksesan pengelolaan Dana Desa ini mampu dibuktikan secara nyata dengan berhasil terpilihnya Desa Adolang Dhua sebagai Juara I pemilihan Desa Terbaik tidak hanya di Tingkat Kabupaten Majene tetapi sampai Tingkat Provinsi Sulawesi Barat. Sungguh merupakan apresiasi yang layak didapatkan atas usaha dan jerih payah serta pengabdian segenap pengurus desa dan seluruh warga masyarakat dalam mewujudkan motto Desa Membangun.

Hembusan angin dari arah perbukitan seolah tak mampu melerai teriknya mentari yang menyengat tetumbuhan yang menyelimuti bukit. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.30 WITA, hingga kemudian penulis pun memohon diri untuk kembali ke kota Majene membawa kisah sukses tentang pengelolaan dana desa di wilayah Desa Adolang Dhua.

Desa Adolang Dhua menjadi salah satu contoh kesuksesan penggunaan Dana Desa. Pemahaman akan kebutuhan mendasar warga menjadi dasar utama pengalokasian dana yang diterima. Pun begitu, peran aktif warga dan aparat desa juga menjadi penentu kesuksesan Dana Desa di wilayah ini.

Hingga secara nyata berbagai proyek yang terkait kebutuhan primer telah berhasil meningkatkan kualitas hidup warga Adolang Dhua. Dan kesuksesan ini mendapatkan pengakuan secara nyata dengan berhasil terpilihnya Desa Adolang Dhua sebagai Juara I pemilihan Desa Terbaik tidak hanya di Tingkat Kabupaten Majene namun Tingkat Propinsi Sulawesi Barat.

Sungguh merupakan apresiasi yang layak didapatkan atas usaha dan jerih payah serta pengabdian segenap pengurus desa dan seluruh warga masyarakat dalam mewujudkan motto Desa Membangun.

%d blogger menyukai ini: