Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, dan Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Jika dikatakan Batak, maka identik dengan Batak Toba, padahal sebenarnya Batak sendiri terbagi ke dalam sejumlah subsuku, yang lebih sering disebut sebagai “orang” atau “suku” Simalungun, Karo, Pakpak-Dairi, atau Mandailing-Angkola.

Setiap subsuku tentu saja memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing, seperti mendiami wilayah tertentu, mempunyai adat istiadat, tradisi, bahasa, aksara, dan kepercayaan tersendiri. Nagori Simbou Baru, sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Dari nama wilayahnya, kita bisa mengetahui mayoritas penduduknya berasal dari subsuku Batak Simalungun. Ada beberapa istilah penyebutan pada desa-desa di Kabupaten Simalungun yang sedikit berbeda dengan di kabupaten lainnya di Indonesia yang merupakan bentuk kearifan lokal, di antaranya ialah desa disebut dengan Nagori dan kepala desa disebut dengan Pangulu.

Nagori Simbou Baru Didirikan pada 1947 dengan nama Nagori Simbou Kehen, namun pada 1967 digabung dengan Nagori Bahapal sehingga statusnya menjadi Dusun Simbou Kehen. Pada 2007, atas usulan masyarakat dimekarkan kembali menjadi Nagori Bahapal dan Nagori Simbou Baru.

Secara geografis Nagori Simbou Baru terdiri atas 3 (tiga) dusun dengan luas Wilayah ± 2.200 Ha. Hingga 2016 Nagori ini dihuni 227 kepala keluarga dengan total penduduk sebanyak 918 jiwa. Mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani.

Sesuai Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDes) 2017 Nagori Simbou Baru diperkirakan memiliki pendapatan sebesar 1,12 miliar rupiah yang terdiri atas transfer Dana Desa 773 juta rupiah dan Alokasi Dana Nagori 347 juta.

Atas Pendapatan tersebut, Nagori Simbou Baru menganggarkan Belanja sebesar 1,12 miliar rupiah yang akan digunakan untuk Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Nagori 301 juta dan Bidang Pelaksanaan Pembangunan Nagori 779 juta rupiah, serta Bidang Pembinaan Kemasyarakatan 46 juta rupiah. Defisit anggaran sebesar 6,5 juta rupiah akan ditanggulangi melalui Penerimaan Pembiayaan Nagori lainnya.

Selama tiga tahun ini, pemanfaatan Dana Desa mayoritas digunakan untuk pembangunan infrastruktur pengerasan jalan di Dusun Juma Dear dan Bah Rambung, rabat beton di tiga Dusun Nagori, serta tembok penahan jembatan di Bah Bongir.

Selain untuk pembangunan infrastruktur, Dana Desa digunakan untuk pembinaan kemasyarakatan, seperti membuat Kegiatan PKK, LPMN, dan Karang Taruna. Di samping itu, ada pengeluaran untuk membiayai kegiatan operasional penyelenggaraan pemerintahan nagori sehari-harinya.

Pada 2007, tepatnya masa awal pemekaran, kondisi Nagori Simbou Baru sangatlah memperihatinkan, jalan yang ada masih jalan tanah, jangankan aspal, pengerasan jalan pun belum ada. Memang pada masa itu jumlah masyarakat yang memiliki kendaraan hanya sedikit, yaitu hanya ada dua warga yang memiliki sepeda motor.

Masyarakat Nagori Simbou Baru sangat terisolir mengingat akses menuju nagori ini belum memadai. Hal ini turut dirasakan oleh Pangulu Nagori saat ini Sahdinson Saragih. Menurutnya, saat ada warga yang sakit keras, mereka harus membawanya dengan tandu beramai-ramai ke lokasi yang dapat dilalui oleh kendaraan, jaraknya kurang lebih sejauh 7 km.

Hal tersebut pernah dirasakan olehnya saat ibundanya yang sakit keras. Dengan pengalaman pahit tersebutlah belaiu berjuang keras untuk memajukan Nagori Simbou Baru menjadi nagori yang lebih maju, baik segi infrastruktur maupun kesejahteraan masyarakatnya.

%d blogger menyukai ini: