Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Makmur menjadi pengumpul (pengepul) untuk hasil panen petani sawit skala kecil di bawah dua hektar. Dengan begitu petani kecil memiliki kepastian pasar dan BUMDes bisa bersaing dengan pengepul besar yang sudah ada.

Sebagian warga di Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, tidak lagi memiliki lahan sawit yang luas. Sulitnya kehidupan di awal transmigrasi membuat mereka harus menjual lahannya. Petani sawit yang memilik kebun dengan luas kurang dari dua hektare dan rata-rata panen di bawah 2 kuintal sulit menjual hasil panen.

Nama Inovasi BUMDes Karya Makmur
Pengelola Pemerintah Desa Pangkalan Tiga
Alamat Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah,
Kontak Tiga Suyamto (Kepala Desa Pangkalan Tiga)
Telepon +62-813-5055-7686

Jelas tidak ekonomis, bila mereka membawa hasil panen yang jumlahnya sedikit ke pos pengepul yang jaraknya jauh. Pengepul besar lebih mengutamakan mengambil hasil panen besar di atas setengah ton. Akhirnya, Pemerintah Desa Pangkalan Tiga mendirikan BUMDes Karya Makmur menjadi pengumpul (pengepul) hasil panen dari petani kecil untuk dijual ke pabrik kelapa sawit.

BUMDes Karya Makmur yang dibentuk sejak Desember 2014 diputuskan untuk memulai unit bisnis jual beli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dengan menyasar petani kecil. Dengan inisiatif Direktur BUMDes dan kepala unit bisnis TBS, usaha pengepulan sawit dilakukan secara door to door.

BUMDes melakukan upaya “jemput bola” meskipun jumlah panen sangat kecil (di bawah 100 kilogram). Petani juga tidak dikenakan biaya. Untuk menekan biaya operasional, kegiatan “jemput bola” hanya dilakukan pada lokasi-lokasi yang satu arah perjalanan menuju pabrik.

Dalam menentukan harga beli dari petani, BUMDes mengacu pada harga tertinggi yang ditetapkan pabrik-pabrik kelapa sawit dan mengambil margin untung Rp 200 per kilogram. Keuntungan yang didapat BUMDes digunakan untuk biaya operasional truk, tenaga pengangkut buah, dan sopir.

BUMDes juga menyediakan jasa peminjaman uang tanpa bunga dan pembayaran cicilannya menyesuaikan kemampuan petani.

Modal awal BUMDes berasal dari swadaya masyarakat. Pada 2015 dan 2016, pemerintah desa melakukan penyertaaan modal dari pos dari Dana Desa (DD). Jumlah penjual sawit kepada BUMDes bertambah dari 50 petani menjadi 125 petani. Lebih dari 50 prosen penjual adalah petani dengan lahan di bawah 2 hektare.

BUMDes mampu berkontribusi terhadap pendapatan asli desa (PAD) sebanyak Rp 20 juta pada tahun 2016. Model bisnis dan inovasi yang dijalankan BUMDes Karya Makmur bisa diterapkan oleh daerah perkebunan sawit lain yang memiliki persoalan serupa.