Perekonomian warga Tiyuh (baca: desa) Penumangan Baru sangat tergantung terhadap harga komoditas karet. Sejak 2013, harga getah karet tidak stabil, bahkan cenderung turun. Pendapatan masyarakat terjun bebas. Lalu, Pemerintah Tiyuh Penumangan Baru berinovasi memperbaiki perekonomian warganya dengan mengembangkan komoditas pertanian baru, yaitu nangka mini. Berkat dukungan Dana Desa (DD), masyarakat dapat mendapatkan bibit secara gratis sehingga komoditas unggulan desa baru itu berkembang pesat.

Tiyuh Penumangan Baru merupakan salah satu desa di Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Karet menjadi komo­ditas utama pertanian warga sehingga pendapatan rumah-tangga mengalir dari getahnya.

Nama Inovasi Budidaya Nangka Mini
Pengelola Pemerintah Tiyuh Panumangan Baru
Alamat Tiyuh Penumangan Baru, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung
Kontak Wirdani (Kepala Tiyuh Panumangan Baru)
Telepon +62-823-7974-6369
Email penumanganbaru@gmail.com

Pohon karet mampu berproduksi sepanjang tahun sehingga mampu menjamin penerimaan terus mengalir. Tantangan petani karet berhenti saat memasuki masa replanting (peremajaan tanaman), karena pohon karet baru siap disadap setelah berumur 6-7 tahun.

Untuk menghasilkan penerimaan yang tinggi dari komoditas karet, maka seorang pekebun membutuhkan lahan yang luas sehingga skala ekonominya tercapai. Selain itu, perekonomian pekebun sangat tergantung pada harga getah karet.

Ada adagium, bila harga getah karet tinggi maka pendapatan keluarga akan naik. Sebaliknya, bila harga getah karet turun maka pendapatan keluarga menurun.

Sejak 2013, pendapatan penduduk desa dari usaha pertanian karet terjun bebas karena turunnya harga karet. Pada 2012, harga karet masih Rp 8.000/kg, setelah itu turun hingga Rp 3.500/kg hingga sekarang.

Para pekebun belum mampu menghasilkan produk turunan dari karet sehingga perekonomian mereka sangat terpuruk. Sebagian warga mengalami frustasi ekonomi sehingga tak jarang merusak pohon karet.

Awalnya, masyarakat Tiyuh Penumangan Baru memperoleh informasi potensi ekonomi nangka Mini. Lalu, mereka mendiskusikan informasi itu bersama tokoh masyarakat dan pemerintah desa dalam forum-forum perencanaan pembangunan.

Pada 2016, Pemerintah Tiyuh Penumangan Baru sepakat mengembangkan komoditas nangka mini ditandai dengan terbitnya Peraturan Tiyuh (Perti) Nomor 12 tahun 2016 tentang pengadaan, penanaman, dan perawatan Nangka Mini.

Pemerintah Tiyuh merealisasikan pengadaan 4.000 bibit nangka mini dari pos Dana Desa (DD) sebesar Rp 66 juta. Pemerintah Tiyuh memberikan bibit Nangka Mini kepada masyarakat setempat antara 3-5 bibit.

Warga menerima dan menanam bibit nangka mini baik di halaman rumah, diperkirakan sama dengan lahan seluas 10 hektar. Komoditas nangka mini diharapkan dapat menutup sebagian kebutuhan rumah-tangga yang turun karena harga karet yang rendah.

Berkat pengembangan komoditas nangka mini, halaman dan pekarangan penduduk lebih produktif. Ada 4000 bibit telah ditanam di 900 rumah warga, dari 1.263 KK se Tiyuh Penumangan Baru.

Berdasarkan audit yang dilakukan Pemerintah Tiyuh, 4.000 bibit nangka mini yang ditanam 100% hidup semua, bahkan memasuki pertengahan 2018 ada 20% tanaman yang sudah mulai berbuah. Diproyeksikan pada 2019, masyarakat Tiyuh Panumangan Baru akan panen raya dengan rata-rata hasil antara 25-40 Kg/batang.

Dalam satu masa panen, setiap penduduk berpotensi menerima tambahan pendapatan berkisar Rp 2000,- hingga Rp 3000,- perkilogramnya. Selain itu, peternak kambing dan sejenisnya mendapat pasokan pakan (ramban).

Kini, masyarakat Tiyuh Panumangan Baru dapat memperoleh sumber pendapatan baru dari komoditas nangka mini. Masyarakat dapat menghemat kebutuhan lahan untuk menanam nangka mini karena dengan ketinggian tanaman 3-5 meter. Nangka mini dapat ditanam di halaman rumah, bahkan bisa dijadikan hiasan halaman rumah.

Dari praktik inovasi yang dilakukan oleh Tiyuh Panumangan Baru dapat diambil pelajaran bahwa masyarakat perlu memperkaya kultur tanaman produksi, termasuk menghindari pola pertanian monokultur supaya tidak tergantung pada satu produk ekonomi dan sumber pendapatan. Keragaman komoditas ekonomi menurunkan potensi ancaman trade off dalam ekonomi sebuah rumah-tangga.

Pada 2019, komoditas nangka mini akan memasuki masa panen, maka perlu disiapkan rencana bisnis pasca panen. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) harus aktif memainkan peran dalam pemasaran nangka mini.

Selain itu, inovasi pengolahan produk olahan nangka perlu dilakukan supaya lahir produk-produk baru berbahan baku nangka.

%d blogger menyukai ini: