Adakah yang belum pernah melihat bambu? Tentu, semua pernah melihat. Bahkan, tidak sedikit yang menggunakan bambu dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai dinding rumah (gedek), struktur rangka atap rumah (usuk dan reng), maupun untuk pagar rumah.

Tapi, adakah yang pernah menyaksikan pemanfaatan hutan bambu sebagai “basis” pengelolaan desa wisata? Nah, yang ini tentu tidak banyak. Salah satu pemanfaatan hutan bambu yang kemudian menjadi “basis” dalam pengeloaan Desa wisata terdapat di Desa Sanankerto, Turen, Malang.

Nama Inovasi Ekowisata Boon Pring Andeman
Pengelola BUMDesa Kertoraharjo
Alamat Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur
Kontak Drs. H. Samsul Arifin, M.Si (Direktur BUMDes) – +62-813-3647-3986
H. Mohammad Subur, SE (Kepala Desa) – +62-822-3278-6333

Destinasi wisata hutan bambu itu namanya Ekowisata Boon Pring Andeman. Karena terdapat di desa, tentu Boon Pring tidak dikelola pengusaha atau investor luar,apalagi pengusaha asing. Boon Pring Andeman dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Kertoraharjo.

Adalah Mohammad Subur, Kepala Desa Sanankerto, Turen, Malang, yang berhasil mengembangkan pariwisata Boon Pring Andeman. Ekowisata ini berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan masyarakat serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Pengembangan ekowisata ini dimulai pada 2015. Desa Sanankerto menangkap trend wisata alam yang tengah populer. Awalnya, hutan bambu di Desa Sanankerto sekadar sebagai lahan konservasi air untuk keperluan irigasi. Lalu, mereka mulai mengembangkan layanan ekowisata, dimana fungsi konservasi tetap ada, namun masyarakat dapat mendapatkan nilai lebih dari adanya pariwisata.

Apa yang dilakukan oleh Mohammad Subur, tentu tidak sekali jadi. Ia bukanlah pesulap yang sekali berucap mantra, abra-kadabra langsung jadi. Butuh waktu lama, agar ikhtiar menjaga lingkungan dapat dilakukan, serta pariwisata dapat dijalankan.

Selain fungsi konservasi, masyarakat Desa Sanankerto juga memanfaatkan bambu untuk kayu bakar dan bahan baku membuat gedek sebagai dinding rumah. Pemerintah Desa mengajak masyarakat untuk berembug tentang pengembangan desa wisata.

Embung yang hanya untuk irigasi serta bertanam selada air, dikeruknya. Nuasa Desa menjadi dinamis. Musyawarah Desa berjalan. Sinergi dengan Pendamping Desa terlaksana dengan baik. Grebeg 1001 Tumpeng dikemasnya dengan apik sehingga semua komponen masyarakat tertarik. Blogger dan YouTuber berdatangan.

Dari sinilah, semua berubah. Masyarakat kian solid. Pohon bambu yang tinggi menjulang tumbuh kuat mengakar, menyimpan sumber-sumber mata air kehidupan di Sanankerto. Tidak kurang dari 9 mata air terdapat di lahan seluas 36,8 Ha, sehingga embung tak pernah kering.

Tercatat, tidak kurang dari 76 ribu pengunjung datang pada 2017 lalu. Sejak Januari hingga Agustus 2018 ini, sudah tercatat 83 ribu pengunjung mendatangi Boon Pring Andeman.

Akhirnya, tak hanya pendapatan masyarakat yang bertambah, lantaran buruh tani juga berjualan di warung-warung sekitar Boon Pring, tapi juga Pendapatan Asli Desa (PADesa) meningkat pesat. Tak tanggung-tanggung, RT/RW mendapat tambahan insenttif, anak-anak berprestasi dari keluarga tidak mampu mendapatkan beasiswa.

Desa Sanankerto yang dulunya terisolir dan miskin serta kerap menjadi sasaran program Inpres Desa Tertinggal (IDT), kini telah menjelma menjadi desa yang luar biasa.

Desa Sanankerto merupakan bagian dari sekuel praktik baik dalam pemanfaatan Dana Desa (DD). Pengembangan wisata Boon Pring Andeman merupakan praktik inovasi dalam pemanfaatan DD untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.