Arang sangat dibutuhkan untuk keperluan dapur, rumah makan, serta untuk memanggang ikan, roti, sate, dan menyetrika baju. Ada berbagai jenis kayu yang biasa digunakan untuk membuat arang, salah satunya kayu alaban. Alaban ((Vitex Pubescens Vahl) termasuk famili verbenaceae, pohonnya sedang dengan tinggi hingga 25 meter, namun umumnya hanya 10 hingga 15 meter. Batang tidak berbanir nyata dengan diameter 35 sampai 45 sentimeter, kadang-kadang dapat mencapai 75 sentimeter, bengkok dan percabangannya malai rendah, berlekuk dalam.

Nama inovasi : Pembuatan arang dari kayu Alaban
Pengelola : Industri kecil
Lokasi/alamat : Desa Ilung Kecamatan Batang Alai Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan ( Kalsel)
Contact person : Zulfi Rachman,SPi (Kepala Desa)
Telepon/HP/email : +62 811 5552 111

Dibanding jenis lainnya, arang dari kayu alaban bisa memanggang lebih baik karena apinya menyala lebih rata dan sempurna. Asapnya pun tidak berterbangan sehingga meningkatkan kualitas rasa makanan. Saat ini, arang juga memiliki fungsi yang sangat vital dalam proses penyaringan air. Saringan arang ini dikenal dengan sebutan saringan pasir arang karena ada tambahan satu buah lapisan arang. Dengan adanya lapisan arang ini, bau dan rasa tidak sedap pada air baku bisa dihilangkan. Secara teknis, arang berfungsi sebagai karbon aktif untuk menjernihkan air dalam sebuah proses penyaringan yang bekerja dengan cara penyerapan atau absorpsi.

Artinya, ketika ada bahan atau benda yang melalui karbon aktif tersebut, maka material yang terkandung di dalamnya akan diserap. Selain menjernihkan dan menghilangkan bau, arang juga memiliki sejumlah fungsi lain dalam proses penyaringan air. Kandungan karbon aktif yang terdapat di dalam arang dapat menyerap klorin yang ada di dalam air sehingga cara ini dipercaya menghasilkan air minum yang layak dikonsumsi. Air yang terasa hambar bahkan tidak enak, juga bisa diatasi dengan karbon aktif dalam arang pada proses penyaringan air. Karbon aktif tersebut juga bisa meloloskan beberapa kandungan penting yang biasanya terdapat di dalam air, seperti mineral, garam, dan senyawa anorganik.

Mengingat fungsinya yang sangat penting dalam penyaringan air ini, negara seperti Arab Saudi pun sangat membutuhkan arang. Desa Ilung merupakan salah satu penghasil arang kayu alaban yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bila sebelumnya hanya melayani permintaan dari industry dan pelaku usaha local yang ada di Kalimantan Selatan, sekarang arang kayu alaban menembus pasar luar negeri. Meskipun pengelolaannya masih sangat sederhana, Desa Ilung sudah bisa melayani permintaan Arab Saudi hingga mencapai 8 kontainer arang kayu alaban per bulan.

Proses pembuatannya dengan memasukkan batang kayu alabn ke dalam tungku dan ditutup dengan batu bata. Setelah pembakaran hingga lima belas hari, akan muncul asap berwarna hijau dari belakang tungku yang menandakan pembakaran hampir selesai. Pembakaran dianggap selesai apabila muncul asap putih. Selanjutnya, arang siap dibongkar. Pembakaran dalam satu tungku dilakukan 2 kali dalam sebulan.
Menurut keterangan Yessiana Damhudie, Tenaga Ahli Madya Pelayanan Sosial Dasar P3MD Kalimantan Selatan yang berkunjung ke sana, kegiatan usaha arang kayu alaban Desa Ilung ini bisa menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 4 orang, tenaga kerja tidak langsung 17 orang. Selain modal pembuatan 1 tungku, juga dikeluarkan biaya dan upah pekerja sebesar Rp 10.000.000,-. Untuk pembelian kayu alaban sebanyak 1,5 ton, dibutuhkan biaya sebesar Rp 7.000.000,- dengan 4 ret pengangkutan menggunakan truk.

Selain bahan baku yang kadang sulit diperoleh, usaha ini juga memerlukan tambahan modal yang lumayan agar dapat berkelanjutan.  Tahun 2019, telah ada rencana penyertaan modal pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mendukung usaha ini. Perlu ada arahan agar pengelolaan dan penyimpanan stok ke depan bisa dengan sistem yang lebih baik sehingga kualitas produk siap kirim memiliki grade A+ dan harganya pun bisa ditingkatkan. Diversifikasi bahan baku untuk pembuatan arang juga perlu dilakukan demi sustaibilitas kegiatan usaha ini, tentu dengan kualitas yang tidak berubah.*****